MAKALAH PEREKONOMIAN DI INDONESIA
PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI, MENILAI KINERJA DAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI, PERMASALAHAN PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era saat ini, perubahan
perekonomian suatu negara sering dipahami atau diartikan sebagai proses
transformasi structural. Seperti istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi,
umum disebut transformasi struktural, dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian
perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam suatu komposisi agregat demand, perdagangan luar negeri
( ekspor dan impor ), agregat supply
( produksi dan pengggunaan faktor-faktor produksi ) yang diperlukan guna
mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (
Chenery dala Hill, 2003 ). Perubahan struktural dalam ekonomi modern
mencakup perubahan kegiatan pertanian ke non pertanian, dari industri ke jasa,
perubahan dalam skala unit-unit yang produktif, dan perubahan dari perusahaan
perseorangan menjadi perusahaan berbadan hukum.
Konsep tersebut menjelaskan
bahwa, mengapa sebagaian besar negara berkembang di dunia yang beranggapan
bahwa transformasi struktural sangat penting di dalam perkembangan ekonomi.
Menurut pandangan bahwa negara-nrgara maju yang memiliki sektor industri yang
sangat besar dapat membuat industrialisasi berkembang dengan pesat. Sedangkan
di wilayah Indonesia sendiri merupakan wilayah yang agraris, yang bagaimana
sektor pertaniannya lebih maju daripada sektor perindustriannya. Tetapi saat
sekarang ini Indonesia juga berupaya untuk lebih memajukan sektor
perindustriannya.
Permasalahan yang terjadi di
dalam penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan perindustrian menunjukkan
adanya masalah dalam perubahan struktural perekonomian nasional. Kontribusi
sektor perindustrian yang semakin meningkat, tetapi justru sektor pertanianlah
yang banyak menyerap tenaga kerja. Kemiskinan pekerja pada bidang pertanian
bertambah parah, demikian juga kesenjangan
antara sektor pertanian dan perindustrian yang semakin luas. Kondisi
yang seperti ini yang akan mempersulit keadaan seperti pembangunann desa karena
mayoritas pekerjanya yaitu bekerja pada sektor pertanian dan bertempat tinggal
di pedesaan. Ketidakseimbangan transformasi struktural perekonomian ini, dapat
menghambat peningkatan produktivitas sektor pertanian dan menjadi sebuah kendala
untuk pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh kontribusi output seluruh sektor dalam
perekonomian. Akibatnya pemasokan atau produksi barang semakin berkurang.
Untuk perkembangan ekonomi ke
arah yang lebih maju melalui industrialisasi dapat meningkatkan keterkaitan
sektor. Dengan adanya sebuah perindutrialisasian maka akan muncul dan berkembangnya sebuah
kegiatan lain yang menjadi komponen-komponen pendukung perindustrian tersebut.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan pengembangan sektor pertanian
?
2.
Apa yang dimaksud dengan pengembangan sektor industri
?
3.
Jelaskan bagaimana peranan dari sektor pertanian dan
industri ?
4.
Menilai kinerja sektor pertanian dan industri ?
5.
Apa saja permasalahan pembangunan sektor pertanian dan
industri ?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui bagaimana pengembangan sektor
pertanian yang ada di desa atau masyarakat.
2.
Untuk mengetahui bagaimana pengembangan sektor
perindustrian yang ada di perkotaan yang terdapat banyak tempat-tempat
perindustrian atau pabrik di suatu daerah.
3.
Agar dapat mengetahui peran dari sektor pertanian dan
industry.
4.
Mengetahui nilai kinerja sektor pertanian dan
industry.
5.
Mengetahui permasalahan pembangunan sektor pertanian
dan industri .
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengembangan Sektor Di
Indonesia
Pada umumnya, negara-negara
berkembang seperti Indonesia adalah negara agraris. Sektor pertanian
mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan negara-negara berkembang.
Beberapa ahli ekonomi berpendapat, bahwa sektor pertanian adalah sektor
penunjang, yang positif dalam pembangunan ekonomi pada negara itu. Di antara
ahli tersebut adalah Johnston dan Mellor (1961), Daniel (2002), dan Todaro (2003).
Johnston dan Mellor (1961)
menyebutkan bahwa, peranan sektor pertanian dalam ekonomi adalah : 1). Sumber utama penyediaan bahan makanan,
2). Sumber penghasilan dan pajak, 3). Sumber penghasilan devisa yang diperlukan
untuk mengimpor modal, bahan baku, dan lain-lain, dan 4). Pasar dalam negeri
untuk menampung hasil produksi industri pengolahan dan sektor bahan pertanian
lainnya.[1]
Daniel (2002), mengemukakan 3
alasan utama mengapa sektor pertanian perlu dibangun lebih, yaitu : 1).
Barang-barang hasil industri memerlukan daya beli masyarakat. Umumnya pembeli
barang-barang hasil industri sebagaian besar berada dalam lingkungan sektor
pertanian. Oleh karena itu, masyarakat sektor pertanian harus ditingkatkan
lebih dulu pendapatannya. 2). Untuk menekan ongkos produksi dari komponen upah
dan gaji diperlukan tersedianya bahan-bahan makanan yang murah dan terjangkau,
sehingga upah dan gaji yang diterima dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan
pokok guru dan pegawai. Keadaan ini bisa tercipta bila produksi hasil pertanian
terutama pangan dapat ditingkatkan sehingga harganya lebihb rendah dan
terjangkau oleh daya beli. 3). Industri membutuhkan bahan baku yang berasal
dari sektor pertanian, karena itu produksi bahan-bahan industri memberikan
basis bagi pertumbuhan itu sendiri. Keadaan ini bisa tercipta sedemikian rupa
sehingga merupakan suatu siklus dan kerja sama yang saling menguntungkan.[2]
Pertanian dan perkebunan
merupakan fundamentasi pokok ekonomi bangsa. Pertanian harus dijadikan sebagai
sektor utama bagi pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Sektor pertanian yang yang
menjadi andalan sebagian besar rakyat tidak mendapat perhatian sepenuhnya.
Demikian juga dalam pencarian kredit terdapat ketidakmerataan untuk sektor
pertanian.
Sektor pertanian hingga kini
masih menjadi sumber mata pencaharian utama sebagian besar penduduk. Program
pembangunan sektor pertanian meliputi program peningkatan produksi di kelima
subsektornya, serta peningkatan pendapatan petani, perkebun, peternak dan
nelayan. Program pembangunan tersebut ditunjang dengan program pembangunan
sarana dan prasarananya seperti pengadaan dan pelancaran faktor produksi,
pengembangan jaringan irigasi dan jalan, kebijaksanaaan tata niaga dan harga,
serta penelitian. Dalam era PJP 1 sektor pertanian merupakan prioritas
pembangunan ekonomi. Pertumbuhannya rata-rata 3,6% per tahun. Kemajuan paling
menonjol sektor ini selama PJP 1 adalah dalam bidang produksi pangan, yakni
keberhasilan mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Sebelumnya, bahan
makanan pokok ini masih harus selalu diimpor. Bahkan pada tahun-tahun 1970-an
Indonesia merupakan negara pengimpor beras terbesar di dunia. Swasembada beras
ini berdampak penting pada meningkatnya kualitas gizi, pendapatan masyarakat,
dan stabilitas ekonomi nasional.
B.
Pengembangan Sektor
Industri
Konsep pembangunan sering
dikaitkan dengan proses industrialisasi, oleh karena itu sering kali
pengertiannya dianggap sama. Negara maju yang pertama dalah negara inggris. Revolusi industri, seringkali
inovasi yang menghemat biaya lewat mesin
uap, yang memungkinkan inggris untuk meningkatkan produksi industrinya
sebesar 400 % selama paruh pertama abad ke 19. Sejak itu sampai sekarang ini
kriteria utama dari pembangunan adalah kenaikan pendapatan per kapita yang
sebagian besar disebabkan oleh adanya industrialisasi. Dua negara yang paling
sukses pembangunannya pada awal abad ke 20, Jepang dan Uni Soviet, juga
disebabkan oleh adanya industrialisasi di negaranya masing-masing.[3]
Proses industrialisasi dan
pembangunan industri ini sebenarnya merupakan satu jalur kegiatan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju
maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain pembangunan industri
itu merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahteraan rakyat bukan
merupakan kegiatan yang mandiri untuk hanya sekedar mencapai fisik saja.
Industrialisasi tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya
alam dan sumber daya lainnya. Hal ini berarti pula sebagai suatu usaha untuk
meningkatkan produktivitas tenaga manusia disertai untuk meluaskan ruang
lingkup kegiatan manusia. Dengan demikian, dapat diusahakan secara vertical
semakin besarnya nilai tambah pada kegiatan ekonomi dan sekaligus secara
horizontal semakin luasnya lapangan kerja produktif bagi penduduk yang semakin
bertambah.
Industri mempunyai peranan
sebagai sektor pemimpin (leading sectos).
Leading sector maksudnya adalah dengan pembangunan industri maka akan memacu
dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sektor pertanian dan
sektor jasa. Pertumbuhan industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sektor
pertanian untuk menyediakan bahan-bahan baku bagi industri. Sektor jasa pun
berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut, misalnya lembaga-lembaga
keuangan, lembaga-lembaga pemasaran/perikanan, dan sebagainya yang akan
mendukung pertumbuhan industri. Hal ini berarti keadaan menyebabkan meluasnya
peluang kerja yang ada pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan
permintaan masyarakat (daya belinya). Kenaikan pendapatan dan peningkatan daya
beli (permintaan) tersebut menunjukkan bahwa perekonomian itu tumbuh dan sehat.
Berdasarkan uraian tersebut,
betapa peranan industri menjadi penting dalam perkembamgan suatu perekonomian.
Tolak ukur yang terpenting antara lain sumbangan sektor industri pengolahan (manufacturing) terhadap PDB, jumlah
tenaga kerja yang terserap disektor industri dan sumbanagn komoditi industri terhadap
ekspor barang dan jasa.
Selain itu keputusan yang ada
di Indonesia untuk membuat pertanian menjadi landasan perencanaan pembangunan
negara memang tidak sejalan dengan kebijaksanaan konvensional. Di tengah
penekanan pembangunan pertanian itu tentu saja pemerintah sadar dengan
sepenuhnya bahwa Indonesia tidak bisa terus menerus bergantung pada pertanian
untuk menjadi negara modern. Pada akhir dekade enam puluhan, ketika pemerintah
orba meluncurkan rencana pembangunan ekonominya, sebagian besar literatur dalam
bidang ekonomi mengidentikkan pembangunan dengan industrialisasi. Hal ini
terlibat lebih nyata lagi misalnya dalam penanaman negara yang sudah mencapain
standar hidup yang sangat tinggi bagi penduduknya sebagai negara industri.
Meskipun negara Indonesia telah mengadopsi kebijakan yang mendahulukan
pertanian, tim ekonomi negara tetap memiliki sebuah komitmen terhadap
industrialisasi sebagai sebuah pilar bagi strategi pembangunan ekonomi negara.[4]
Mereka juga sadar bahwa
program yang salah/keliru untuk mencapai hasil industrialisasi secara
terburu-buru bisa menjadi senjata/boomerang yang menyebabkan dis-alokasi
ekonomi, investasi terbuang percuma dan penghamburan kekayaan negara yang
langka.
C. Peranan Sektor Pertanian dan Industri
1.
Sektor Pertanian
Perjalanan atau
langkah-langkah pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih belum
dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan
petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Pembangunan pertanian di
Indonesia dianggap penting karena wilayah Indonesia umumnya merupakan wilayah agraris, yang umumnya
penduduk tersebut bekerja sebagai petani atau bertani. Dan selain itu Indonesia
juga memiliki peranan penting diantaranya yaitu : 1). Potensi sumber daya alam
yang besar dan beragam, 2). Pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup
besar, 3). Besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, 4). Besarnya penduduk
Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, 5). Perannya dalam penyediaan
pangan masyarakat dan 6). Menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi
pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian
besar dari petani, masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan
petani, tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.
Sektor pertanian
merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan
perekonomian nasional. Peranan sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil
bahan kebutuhan pokok, sandang dan papan, menyediakan lapangan pekerjaan bagi
sebagian besar penduduk, memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang
tinggi, memberikan devisa bagi negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang
tinggi dengan rendahnya ketergantungan terhadap impor (multiplier effect), yaitu
keterkaitan input-output antar industri, konsumsi dan investasi. Dampak
pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan
sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian
juga dapat menjadi basis dalam mengembangkan kegiatan ekonomi perdesaan melalui
pengembangan usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan
pertumbuhan tersebut ysng terus positif secara konsisten, sektor pertanian
berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.[5]
Di suatu
Negara besar seperti Indonesia, di mana ekonomi dalam negerinya masih
didominasi oleh ekonomi pedesaan sebagian besar dari jumlah penduduknya atau
jumlah tenagakerjanya bekerja di pertanian. Di Indonesia daya serap sektor
tersebut pada tahun 2000 mencapai40,7 juta lebih. Jauh lebih besar dari sector
manufaktur. Ini berarti sektor pertanian merupakansektor dengan penyerapan
tenaga kerja yang tinggi.Kalau dilihat pola perubahan kesempatan kerja di
pertanian dan industri manufaktur, pangsa kesempatan kerja dari sektor
pertama menunjukkan suatu pertumbuhan tren yangmenurun, sedangkan di sektor
kedua meningkat. Perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuaidengan yang di
prediksi oleh teori mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi dari
suatu proses pembangunan ekonomi jangka panjang, yaitu bahwa semakin
tinggi pendapatan per kapita, semakin kecil peran dari sektor primer,
yakni pertambangan dan pertanian, dan semakin besar peran dari sektor
sekunder, seperti manufaktur dan sektor-sektor tersier di bidang
ekonomi. Namun semakin besar peran tidak langsung dari sektor pertanian,
yakni sebagai pemasok bahan baku bagi sektor industri manufaktur dan
sektor-sektor ekonomi lainnya.[6]
2.
Sektor Industri
Industri memiliki peran sebagai sektor
pemimpin. Peran sektor pemimpin dalam kaitannya dengan keberhasilan sebuah
pembangunan adalah dengan adanya pembangunan industri, maka diharapkan akan
dapat memacu dan mendorong pembangunan sektor lainnya. Pertumbuhan industri
yang cukup cepat akan mendorong adanya perluasan peluang kerja yang pada
akhirnya akan meningkatkan pendapatan serta permintaan masyarakat. Adanya
peningkatan dan daya beli itu menunjukkan bahwa perekonomian tersebut tumbuh
dan sehat. Hubungan antara aktivitas pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja
terlihat jika terdapat pertumbuhan ekonomi maka mengakibatkan meningkatnya
aktivitas kegiatan ekonomi, demikian sebaliknya. Pertumbuhan Sektor Industri
adalah proses kenaikan jumlah unit usaha industri. Pertumbuhan sektor industri
diukur dengan indikator antara lain jumlah unit usaha sektor industri mengalami
kenaikan dan pendapatan dari sektor industri meningkat.
Secara teori semakin tinggi tingkat
pertumbuhan ekonomi suatu sektor, maka semakin tinggi pertumbuhan kesempatan
kerja sektor tersebut. Dengan kata lain hubungan sektor industri dengan
penyerapan tenaga kerja sangat erat sekali. Semakin baik meningkat pertumbuhan
sektor industri, maka semakin meningkat jumlah penyerapan tenaga kerja.
“Kesempatan kerja adalah banyaknya orang yang dapat tertampung untuk bekerja
pada suatu unit usaha atau lapangan pekerjaan” (BPS, 2015). Kesempatan kerja
ini akan menampung semua tenaga kerja apabila lapangan pekerjaan yang tersedia
mencukupi atau seimbang dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang ada. Adapun
“lapangan pekerjaan adalah bidang kegiatan usaha atau instansi di mana seseorang
bekerja atau pernah bekerja.”[7]
Sektor Industri dalam
Pembangunan Ekonomi Nasional dapat ditelusuri dari kontribusi masing-masing
subsektor terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional atau terhadap produk
domestik bruto.
Pada beberapa negara yang
tergolong maju, peranan sektor industri lebih dominan dibandingkan dengan
sektor pertanian. Sektor industri memegang peran kunci sebagai mesin pembangunan
karena sektor industri memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sektor lain
karena nilai kapitalisasi modal yang tertanam sangat besar, kemampuan menyerap
tenaga kerja yang besar, juga kemampuan menciptakan nilai tambah (value
added creation) dari setiap input atau bahan dasar yang diolah. Pada
negara-negara berkembang, peranan sektor industri juga menunjukkan kontribusi
yang semakin tinggi. Kontribusi yang semakin tinggi dari sektor industri
menyebabkan perubahan struktur perekonomian negara yang bersangkutan secara
perlahan ataupun cepat dari sektor pertanian ke sektor industri.[8]
D. Menilai Kinerja Sektor Pertanian dan Industri
1.
Kinerja Sektor Pertanian
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia di sektor pertanian mengalami penurunan pada kuartal pertama
tahun 2016 dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2015 lalu. Data BPS
menunjukkan angka pertumbuhan pertanian Indonesia pada kuartal pertama tahun
ini hanya 1,85%. Angka pertumbuhan ini mengalami penurunan yang cukup
signifikan jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan pertanian Indonesia pada
kuartal yang sama tahun 2015 yaitu mencapai 4,03%. Menurunnnya pertumbuhan
pertanian ini berdampak cukup serius pada pertumbuhan ekonomi Indonesia
mengingat sektor perdagangan
Indonesia masih banyak
berkutat pada sektor pertanian. Menurunnya pertumbuhan di bidang pertanian ini
dianggap sebagai efek dari perubahan iklim yang terjadi secara global dan juga
faktor perbankan yang terhambat. Adanya musim El Nino yang melanda Indonesia
membuat masa panen hasil pertanian bergeser dari yang seharusnya dimulai pada
bulan Maret menjadi bulan April.[9]
Hal
inilah yang menjadi penyebab utama hasil pertumbuhan pertanian tidak sampai 2%
pada tiga bulan pertama pada tahun 2016, padahal tahun sebelumnya pada periode
yang sama bisa mendongkrak pertumbuhan hingga di atas 4%. Hal yang agak berbeda
dinyatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution yang
melihat pergeseran masa panen ini sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi di
kuartal kedua nantinya. Faktor penyebab kedua yang menjadi penyebab sekunder
melambatnya pertumbuhan pertanian adalah di bidang perbankan. Faktor perbankan
yang menyebabkan pertumbuhan
pertanian melambat dikarenakan
penyaluran kredit yang melambat atau menurun. Hal ini tentu berpengaruh terhadap
persediaan modal para petani untuk menghasilkan hasil tani yang berkualitas. Di
samping itu investasi swasta juga ikut terpengaruhi oleh penyaluran kredit yang
tersendat.
Kinerja pertanian yang
menarik, jika pada 2014 laju inflasi bahan makanan mencapai 10,57%, pada 2015
turun drastis di angka 4,93%. Di 2016 naik tipis di angka 5,69%, tapi di 2017
menukik di angka 1,26%. Penurunan laju inflasi bahan makanan pada periode
2014-2017 ini merupakan pertama dalam sejarah pembangunan pertanian di
Indonesia.
Dari sisi nilai investasi
pertanian juga mengalami peningkatan. Pada 2013 nilai investasi pertanian
tercatat Rp 29,3 triliun. Angka ini meningkat pada 2014 yang mencapai Rp 44,8
triliun, 2015 (Rp 43,1 triliun), 2016 (45,4 triliun), 2017 (45,9 triliun), dan 2018
melejit di angka Rp 61,6 triliun. Jika diakumulasikan nilai investasi pertanian
sejak 2013-2018 mencapai Rp 241 triliun atau meningkat sekitar 110,2%.
Berdasarkan analisis di
atas, dinamika kinerja makro sektor pertanian periode 2012-2018 tidak terlepas
dari kinerja makro perekonomian nasional. Oleh karena itu, perbaikan kinerja
sektor pertanian perlu dilakukan oleh Kementrian Pertanian bekerjasama dengan
para pemangku kepentingan lainnya. Meskipun PDB sektor pertanian terus tumbuh
pada periode tersebut, kontribusinya terhadap PDB nasional cenderung menurun
dan nilainya relatif kecil dibandingkan penyerapan tenaga kerjanya. Peningkatan
produktivitas tenaga kerja pertanian dapat dilakukan dengan meningkatkan
partisipasi generasi muda terdidik di sektor ini.
Strategi yang dapat
dilakukan adalah transformasi digital dan penerapan teknologi praktis di bidang
on-farm maupun off-farm serta memberi insentif pengembangan pertanian organik.
Generasi milenial cenderung tertarik pada bisnis yang terintegrasi,
memanfaatkan teknologi dan ramah lingkungan. Teknologi digital juga dapat
dimanfaatkan untuk menciptakan pasar dengan informasi simetrik sehingga petani
dapat mengakses harga yang lebih baik. Peningkatan kapasitas teknis dan
manajerial para petani khususnya petani muda juga perlu terus dilakukan.
Penyiapan sumberdaya manusia khususnya kaum muda terdidik di sektor pertnaian
dan infrastruktur digitial juga akan menjadi salah satu daya tarik investasi
untuk modernisasi sektor ini.
Sementara itu, berkurangnya lahan
baku sawah akibat alih fungsi lahan perlu diantisipasi dengan pencetakan dan
optimasi pemanfaatan lahan baku sawah baru, konsolidasi lahan pertanian
(consolidated farming), penguatan kelembagaan petani serta penerapan kebijakan
untuk mengendalikan laju alih fungsi lahan yang lebih ketat. Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
dan peraturan turunanannya perlu diimplementasikan dengan memperbaiki kontrol
dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
Perlu dirumuskan kebijakan
insentif untuk pemanfaatan lahan menganggur dan disinsentif/sanksi bagi pihak
yang menelantarkan lahan pertanian. Pengembangan riset tentang benih/bibit dan
teknologi/sistem produksi perlu terus dilakukan untuk memperbaiki produktivitas
maupun indeks pertanaman.
2.
Kinerja Sektor Industri
Kinerja industri sangat dipengaruhi oleh
karakteristik industri itu sendiri (padat modal, padat karya, padat teknologi,
padat energi, padat material, padat tenaga ahli). Untuk industri yang padat karya,
upah rata-rata tenaga kerja produksinya kecil, sebaliknya dengan industri yang
padat teknologi. Industri padat teknologi seperti industri kendaraan bermotor,
mesin, alat komunikasi tergantung dari kinerja efisiensi dan produktivitasnya.
Kinerja industri juga dipengaruhi oleh usia industri. Industri kebutuhan primer
(pangan dan sandang) hampir tidak lagi mengalami pertumbuhan atau mengalami
pertumbuhan negatif dikarenakan usianya sudah sangat tua sehingga secara
besaran sudah sangat besar dibanding subsektor lainnya. Industri-industri ini
berkontribusi besar dalam PDB serta jumlah tenaga kerja dan perusahaannya
sangat banyak.[10]
Pada tahun 2018 subsektor
industri makanan dan minuman merupakan subsektor dengan penambahan tenaga kerja
paling besar, yakni sebanyak 162.395 orang. Selanjutnya disusul oleh subsektor
industri tekstil dan pakaian jadi dengan penambahan sebanyak 136.533 orang,
kemudian subsektor industri barang dari logam, komputer, barang elektronik,
optik, dan peralatan listrik sebanyak 99.147 dan keempat subsektor industri
kayu, barang dari kayu & gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dsj
sebanyak 79.052 orang. Peningkatan tenaga kerja sektor industri terutama
terjadi pada industri-industri yang padat karya seperti industri makanan dan
minuman, dan industri tekstil dan pakaian jadi. Peningkatan tenaga kerja
industri makanan dan minuman sebesar 3,4 persen sejalan dengan kenaikan PDB
industri makanan dan minuman naik sepanjang tahun 2018 sebesar 7,91 persen.
Sedangkan tenaga kerja industri tekstil dan pakaian jadi naik sebesar 3,6
persen seiring dengan peningkatan PDB industri tekstil dan pakaian jadi
sepanjang tahun 2018 sebesar 8,73 persen. Sedangkan subsektor industri yang
mengalami penurunan tenaga kerja atau pertumbuhan negatif antara lain:
subsektor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, menurun sebanyak
25.040 orang dan industri logam dasar menurun sebanyak 16.466 orang. Hal ini
disebabkan oleh efisiensi pada industri padat modal seperti industri logam
dasar yang telah mengimplementasikan industri.[11]
E.
Permasalahan
Pembangunan Sektor Pertanian dan
Industri
Dalam pengembangan sektor pertanian masih
ditemui beberapa kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang
berbasiskan agribisnis dan agroindustri. Kendala yang dihadapi dalam
pengembangan pertanian khususnya petani skala kecil, antara lain:
Salah
satu faktor produksi penting dalam usaha tani adalah modal. Secara umum
pemilikan modal petani masih relatif kecil, karena modal ini biasanya bersumber
dari penyisihan pendapatan usaha tani sebelumnya. Untuk memodali usaha tani
selanjutnya petani terpaksa memilih alternatif lain, yaitu meminjam uang pada
orang lain yang lebih mampu (pedagang) atau segala kebutuhan usaha tani diambil
dulu dari toko dengan perjanjian pembayarannya setelah panen. Kondisi seperti
inilah yang menyebabkan petani sering terjerat pada sistem pinjaman yang secara
ekonomi merugikan pihak petani.
Kesuburan
tanah sebagai faktor produksi utama dalam pertanian makin menurun.
Permasalahannya bukan saja menyangkut makin terbatasnya lahan yang dapat
dimanfaatkan petani, tetapi juga berkaitan dengan perubahan perilaku petani
dalam berusaha tani. Dari sisi lain mengakibatkan terjadinya pembagian
penggunaan tanah untuk berbagai subsektor pertanian yang dikembangkan oleh
petani.
Usaha
pertanian merupakan suatu proses yang memerlukan jangka waktu tertentu. Dalam
proses tersebut akan terakumulasi berbagai faktor produksi dan sarana produksi
yang merupakan faktor masukan produksi yang diperlukan dalam proses tersebut
untuk mendapatkan keluaran yang diinginkan. Petani yang bertindak sebagai
manajer dan pekerja pada usaha taninya haruslah memiliki pengetahuan dan keterampilan
dalam penggunaan berbagai faktor masukan usaha tani, sehingga mampu memberikan
pengaruh terhadap peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha yang dilakukan.
Organisasi
merupakan wadah yang sangat penting dalam masyarakat, terutama kaitannya dengan
penyampaian informasi (top down) dan panyaluran inspirasi (bottom up) para
anggotanya. Dalam pertanian, organisasi yang tidak kalah pentingnya adalah
kelompok tani. Selama ini kelompok tani sudah terbukti menjadi wadah penggerak
pengembangan pertanian di pedesaan. Hal ini dapat dilihat dari manfaat kelompok
tani dalam hal memudahkan koordinasi, penyuluhan dan pemberian paket teknologi.
e. Kurangnya kuantitas dan kualitas
sumberdaya manusia untuk sektor agribisnis.
Petani merupakan
sumberdaya manusia yang memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan
suatu kegiatan usaha tani, karena petani merupakan pekerja dan sekaligus
manajer dalam usaha tani itu sendiri. Ada dua hal yang dapat dilihat berkaitan
dengan sumberdaya manusia ini, yaitu jumlah yang tersedia dan kualitas
sumberdaya manusia itu sendiri. Kedua hal ini sering dijadikan sebagai
indikator dalam menilai permasalahan yang ada pada kegiatan pertanian
2. Kendala Dalam Pengembangan Sektor Industri Di Indonesia
Dalam rangka meningkatkan
pertumbuhan industri di Indonesia kebijakan dan strategi pemgembangan sektor
industri yang akan diterapkan hendaknya mampu menghadapi berbagai tantangan dan
hambatan yang dihadapi dalam dunia usaha khususnya sektor industri.[12]
Permasalahan-permasalahan yang ada
disektor industri harus bisa diatasi agar para pengusaha atau investor
bergairah lagi menanamkan investasi di Indonesia.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi
sektor industri adalah:
a. Masalah Birokrasi
1) Perizinan tidak transparan,
berbelit-belit, diskriminatif, lama dan terjadi tumpang tindih vertikal (antara
pusat dan daerah) serta horizontal (antar instansi daerah).
2) Penegakan dan pelaksanaan hukum dan
berbagai peraturan perundang-undangan masih cenderung kurang tegas.
3) Administrasi perpajakan yang belum
optimal. Pengusaha menganggap administrasi perpajakan terutama kaitanya dengan
produk-produk ekspor yang sangat tidak efisien.
4) Banyaknya pemungutan yang sering kali
tidak disertai pelayanan yang memadai.
b. Masalah Teknologi.
1) Lemahnya penguasaan dan penerapan
teknologi. Penerapan teknologi tepat guna belum banyak dimanfaatkan oleh
industri untuk meningkatkan produksi.
2) Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan
dipertahankan karena kualitas sumber daya manusia relatif rendah.
c. Masalah Bahan Baku
1) Suplai bahan baku kurang memadai antara lain karena
kesulitan dalam memperoleh bahan baku dipasaran.
2) Harga bahan baku terlalu tinggi terutama bahan baku yang
berasal dari impor karena tergantung nilai kurs terhadap dolar.
d. Masalah Pemasaran
1) Pemasaran hasil produksi agak sulit dan
harganya rendah sehingga hasil penjualan tidak mampu menutupi biaya produksi
yang cukup tinggi.
2) Permintaan produk dipasaran sangat rendah
walaupun harganya rendah karena kalah bersaing dengan perusahaan lain.
3) Asosiasi pengusaha belum berperan dalam
mengkoordinasikan produk sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat antar
usaha sejenis.
e. Masalah Permodalan
1) Sistem dan prosedur kredit dari lembaga
keungan dan nonbank rumit dan lama sehingga dalam pencairan kredit sangat lama.
2) Suku bunga kredit perbankan cukup tinggi
sehingga kredit menjadi mahal.
f.
Masalah
Manejemen
1) Pola manegemen yang sesuai dengan
kebutuhan sebelum bisa diterapakan karena pengetahuan dam manegerial skill
relatif rendah sehingga strategi bisnis yang tepat belum mampu disusun dengan
baik.
2) Kemampuan pengusaha mengorganisasikan diri
dan karyawan masih lemah sehingga terjadi pembagian kerja yang tidak tepat.
3) Produktifitas karyawan masih rendah
sedangkan intensitas pelatihan yang dilaksanakan oleh industri belum juga
menggembirakan.
g. Permasalahn Industri Kecil
1) Sebagian besar industri kecil yang ada merupakan
usaha sampingan atau pelengkap bagi pengusaha kecil dengan produksi yang
berfluktuasi cukup besar atau berpola musiman atau tidak beraturan.
2) Sikap dan reaksi pengusaha industri kecil
yang ada pada umunya lambat dan kurang tanggap untuk mengikuti perkembangan
sehubungan dengan latar belakang budaya agraris.
3) Sulitnya menemukan produk yang sesuai
dengan kebutuhan industri kecil dalam rangka peningkatan mutu dan pengembangan
produk baru.
4) Volume permintaan atas hasil produksi
industri kecil pada umunya terbatas secara geografis.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sektor pertanian
dan industri merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam
struktur pembangunan perekonomian nasional.
Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang
menguntungkan bagi kedua sektor ini. Program-program pembangunan tidak terarah
tujuannya bahkan semakin menjerumuskan
kedua sektor pada kehancuran. Meski demikian kedua sektor ini merupakan
sektor yang banyak menampung luapan
tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung pada mereka.
Di sisi lain, Banyak hal yang harus kita lakukan dalam
mengembangkan pertanian pada masa yang akan datang. Kesejahteraan petani dan
keluarganya merupakan tujuan utama yang menjadi prioritas dalam melakukan
program apapun. Tentu hal itu tidak boleh hanya menguntungkan satu golongan
saja namun diarahkan untuk mencapai pondasi yang kuat pada pembangunan
nasional. Pembangunan adalah penciptaan sistem dan tata nilai yang lebih baik
hingga terjadi keadilan dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Pembangunan
pertanian harus mengantisipasi tantangan demokratisasi dan globalisasi untuk
dapat menciptakan sistem yang adil. Selain itu harus diarahkan untuk mewujudkan
masyarakat yang sejahtera, khususnya petani melalui pembangunan sistem
pertanian dan usaha pertanian yang kuat dan mapan. Dimana Sistem tersebut harus
dapat berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralistik.
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang
makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk menerima
kritik dan saran dalam bentuk apapun untuk kedepannya yang lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Pujoalwanto, Basuki. 2014. “Perekonomian Indonesia”.
Yogyakarta : Graha ilmu.
Dewi Setiawati, Nachrowi, “Pengembangan Indeks Kinerja
Industri”, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia vol. 13 No.1, 2012, hal 16.
Supriyati, Erma Suryani,”Peranan, Peluang dan Kendala
Pengembangan Argoindustri Di Indonesia”, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian, hal 9.
Yasrizal, Ishak Hasan, “Pengaruh Pembangunan Sektor
Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan dan Kesempatan Kerja Di Indonesia”.
JIEP Vol.16, No.1, 2016, hal 7
https://lh3i4r.wordpress.com/2010/05/09/peranan-sektor-industri-dalam-pembangunan-ekonomi-indonesia/
Peranan
perytanian
Badan
Pusat Statistik. (2019). Statistik Indonesia tahun 2019. Jakarta.
Biro
Perencanaan Sekretariat Jendral, “Laporan Kinerja Laporan Perindustrian 2018”,
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia.
[1] Basuki pujoalwanto, “Perekonomian Indonesia”, 2014, hal 201
[3] Basuki pujoalwanto, “Perekonomian Indonesia”, 2014, hal.221
[5] Peranan perytanian
[6] https://blog.ub.ac.id/nitasetiadewi/2013/10/01/peran-sektor-pertanian-dalam-perekonomian-indonesia/
[8] https://lh3i4r.wordpress.com/2010/05/09/peranan-sektor-industri-dalam-pembangunan-ekonomi-indonesia/
[9] Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Indonesia tahun 2019.
Jakarta.
[10] Dewi Setiawati, Nachrowi, “Pengembangan Indeks Kinerja Industri”,
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia
[11] Biro Perencanaan Sekretariat Jendral, “Laporan Kinerja Laporan Perindustrian
2018”, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia.
[12] Supriyati, Erma Suryani, “Peranan, Peluang dan Kendala Pengembangan
Argoindustri Di Indonesia”, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Pertanian, hal 9.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar