Jumat, 17 April 2020


MAKALAH PEREKONOMIAN DI INDONESIA

PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI, MENILAI KINERJA DAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI, PERMASALAHAN PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI





BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Di era saat ini, perubahan perekonomian suatu negara sering dipahami atau diartikan sebagai proses transformasi structural. Seperti istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi, umum disebut transformasi struktural, dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam suatu komposisi agregat demand, perdagangan luar negeri ( ekspor dan impor ), agregat supply ( produksi dan pengggunaan faktor-faktor produksi ) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ( Chenery dala Hill, 2003 ). Perubahan struktural  dalam ekonomi modern mencakup perubahan kegiatan pertanian ke non pertanian, dari industri ke jasa, perubahan dalam skala unit-unit yang produktif, dan perubahan dari perusahaan perseorangan menjadi perusahaan berbadan hukum.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa, mengapa sebagaian besar negara berkembang di dunia yang beranggapan bahwa transformasi struktural sangat penting di dalam perkembangan ekonomi. Menurut pandangan bahwa negara-nrgara maju yang memiliki sektor industri yang sangat besar dapat membuat industrialisasi berkembang dengan pesat. Sedangkan di wilayah Indonesia sendiri merupakan wilayah yang agraris, yang bagaimana sektor pertaniannya lebih maju daripada sektor perindustriannya. Tetapi saat sekarang ini Indonesia juga berupaya untuk lebih memajukan sektor perindustriannya.
Permasalahan yang terjadi di dalam penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan perindustrian menunjukkan adanya masalah dalam perubahan struktural perekonomian nasional. Kontribusi sektor perindustrian yang semakin meningkat, tetapi justru sektor pertanianlah yang banyak menyerap tenaga kerja. Kemiskinan pekerja pada bidang pertanian bertambah parah, demikian juga kesenjangan  antara sektor pertanian dan perindustrian yang semakin luas. Kondisi yang seperti ini yang akan mempersulit keadaan seperti pembangunann desa karena mayoritas pekerjanya yaitu bekerja pada sektor pertanian dan bertempat tinggal di pedesaan. Ketidakseimbangan transformasi struktural perekonomian ini, dapat menghambat peningkatan produktivitas sektor pertanian dan menjadi sebuah kendala untuk pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh kontribusi output  seluruh sektor dalam perekonomian. Akibatnya pemasokan atau produksi barang semakin berkurang.
Untuk perkembangan ekonomi ke arah yang lebih maju melalui industrialisasi dapat meningkatkan keterkaitan sektor. Dengan adanya sebuah perindutrialisasian  maka akan muncul dan berkembangnya sebuah kegiatan lain yang menjadi komponen-komponen pendukung perindustrian tersebut.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan pengembangan sektor pertanian ?
2.      Apa yang dimaksud dengan pengembangan sektor industri ?
3.      Jelaskan bagaimana peranan dari sektor pertanian dan industri ?
4.      Menilai kinerja sektor pertanian dan industri ?
5.      Apa saja permasalahan pembangunan sektor pertanian dan industri ?

C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui bagaimana pengembangan sektor pertanian yang ada di desa atau masyarakat.
2.      Untuk mengetahui bagaimana pengembangan sektor perindustrian yang ada di perkotaan yang terdapat banyak tempat-tempat perindustrian atau pabrik di suatu daerah.
3.      Agar dapat mengetahui peran dari sektor pertanian dan industry.
4.      Mengetahui nilai kinerja sektor pertanian dan industry.
5.      Mengetahui permasalahan pembangunan sektor pertanian dan industri .

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengembangan Sektor Di Indonesia

Pada umumnya, negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah negara agraris. Sektor pertanian mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan negara-negara berkembang. Beberapa ahli ekonomi berpendapat, bahwa sektor pertanian adalah sektor penunjang, yang positif dalam pembangunan ekonomi pada negara itu. Di antara ahli tersebut adalah Johnston dan Mellor (1961), Daniel (2002), dan Todaro (2003).
Johnston dan Mellor (1961) menyebutkan bahwa, peranan sektor pertanian dalam ekonomi adalah :  1). Sumber utama penyediaan bahan makanan, 2). Sumber penghasilan dan pajak, 3). Sumber penghasilan devisa yang diperlukan untuk mengimpor modal, bahan baku, dan lain-lain, dan 4). Pasar dalam negeri untuk menampung hasil produksi industri pengolahan dan sektor bahan pertanian lainnya.[1]
Daniel (2002), mengemukakan 3 alasan utama mengapa sektor pertanian perlu dibangun lebih, yaitu : 1). Barang-barang hasil industri memerlukan daya beli masyarakat. Umumnya pembeli barang-barang hasil industri sebagaian besar berada dalam lingkungan sektor pertanian. Oleh karena itu, masyarakat sektor pertanian harus ditingkatkan lebih dulu pendapatannya. 2). Untuk menekan ongkos produksi dari komponen upah dan gaji diperlukan tersedianya bahan-bahan makanan yang murah dan terjangkau, sehingga upah dan gaji yang diterima dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokok guru dan pegawai. Keadaan ini bisa tercipta bila produksi hasil pertanian terutama pangan dapat ditingkatkan sehingga harganya lebihb rendah dan terjangkau oleh daya beli. 3). Industri membutuhkan bahan baku yang berasal dari sektor pertanian, karena itu produksi bahan-bahan industri memberikan basis bagi pertumbuhan itu sendiri. Keadaan ini bisa tercipta sedemikian rupa sehingga merupakan suatu siklus dan kerja sama yang saling menguntungkan.[2]
Pertanian dan perkebunan merupakan fundamentasi pokok ekonomi bangsa. Pertanian harus dijadikan sebagai sektor utama bagi pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Sektor pertanian yang yang menjadi andalan sebagian besar rakyat tidak mendapat perhatian sepenuhnya. Demikian juga dalam pencarian kredit terdapat ketidakmerataan untuk sektor pertanian.
Sektor pertanian hingga kini masih menjadi sumber mata pencaharian utama sebagian besar penduduk. Program pembangunan sektor pertanian meliputi program peningkatan produksi di kelima subsektornya, serta peningkatan pendapatan petani, perkebun, peternak dan nelayan. Program pembangunan tersebut ditunjang dengan program pembangunan sarana dan prasarananya seperti pengadaan dan pelancaran faktor produksi, pengembangan jaringan irigasi dan jalan, kebijaksanaaan tata niaga dan harga, serta penelitian. Dalam era PJP 1 sektor pertanian merupakan prioritas pembangunan ekonomi. Pertumbuhannya rata-rata 3,6% per tahun. Kemajuan paling menonjol sektor ini selama PJP 1 adalah dalam bidang produksi pangan, yakni keberhasilan mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Sebelumnya, bahan makanan pokok ini masih harus selalu diimpor. Bahkan pada tahun-tahun 1970-an Indonesia merupakan negara pengimpor beras terbesar di dunia. Swasembada beras ini berdampak penting pada meningkatnya kualitas gizi, pendapatan masyarakat, dan stabilitas ekonomi nasional. 

B.     Pengembangan Sektor Industri

Konsep pembangunan sering dikaitkan dengan proses industrialisasi, oleh karena itu sering kali pengertiannya dianggap sama. Negara maju yang pertama dalah negara  inggris. Revolusi industri, seringkali inovasi yang menghemat biaya lewat mesin  uap, yang memungkinkan inggris untuk meningkatkan produksi industrinya sebesar 400 % selama paruh pertama abad ke 19. Sejak itu sampai sekarang ini kriteria utama dari pembangunan adalah kenaikan pendapatan per kapita yang sebagian besar disebabkan oleh adanya industrialisasi. Dua negara yang paling sukses pembangunannya pada awal abad ke 20, Jepang dan Uni Soviet, juga disebabkan oleh adanya industrialisasi di negaranya masing-masing.[3]
Proses industrialisasi dan pembangunan industri ini sebenarnya merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain pembangunan industri itu merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahteraan rakyat bukan merupakan kegiatan yang mandiri untuk hanya sekedar mencapai fisik saja. Industrialisasi tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Hal ini berarti pula sebagai suatu usaha untuk meningkatkan produktivitas tenaga manusia disertai untuk meluaskan ruang lingkup kegiatan manusia. Dengan demikian, dapat diusahakan secara vertical semakin besarnya nilai tambah pada kegiatan ekonomi dan sekaligus secara horizontal semakin luasnya lapangan kerja produktif bagi penduduk yang semakin bertambah.
Industri mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin (leading sectos). Leading sector maksudnya adalah dengan pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sektor pertanian dan sektor jasa. Pertumbuhan industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sektor pertanian untuk menyediakan bahan-bahan baku bagi industri. Sektor jasa pun berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut, misalnya lembaga-lembaga keuangan, lembaga-lembaga pemasaran/perikanan, dan sebagainya yang akan mendukung pertumbuhan industri. Hal ini berarti keadaan menyebabkan meluasnya peluang kerja yang ada pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya belinya). Kenaikan pendapatan dan peningkatan daya beli (permintaan) tersebut menunjukkan bahwa perekonomian itu tumbuh dan sehat.
Berdasarkan uraian tersebut, betapa peranan industri menjadi penting dalam perkembamgan suatu perekonomian. Tolak ukur yang terpenting antara lain sumbangan sektor industri pengolahan (manufacturing) terhadap PDB, jumlah tenaga kerja yang terserap disektor industri dan sumbanagn komoditi industri terhadap ekspor barang dan jasa.
Selain itu keputusan yang ada di Indonesia untuk membuat pertanian menjadi landasan perencanaan pembangunan negara memang tidak sejalan dengan kebijaksanaan konvensional. Di tengah penekanan pembangunan pertanian itu tentu saja pemerintah sadar dengan sepenuhnya bahwa Indonesia tidak bisa terus menerus bergantung pada pertanian untuk menjadi negara modern. Pada akhir dekade enam puluhan, ketika pemerintah orba meluncurkan rencana pembangunan ekonominya, sebagian besar literatur dalam bidang ekonomi mengidentikkan pembangunan dengan industrialisasi. Hal ini terlibat lebih nyata lagi misalnya dalam penanaman negara yang sudah mencapain standar hidup yang sangat tinggi bagi penduduknya sebagai negara industri. Meskipun negara Indonesia telah mengadopsi kebijakan yang mendahulukan pertanian, tim ekonomi negara tetap memiliki sebuah komitmen terhadap industrialisasi sebagai sebuah pilar bagi strategi pembangunan ekonomi negara.[4]
Mereka juga sadar bahwa program yang salah/keliru untuk mencapai hasil industrialisasi secara terburu-buru bisa menjadi senjata/boomerang yang menyebabkan dis-alokasi ekonomi, investasi terbuang percuma dan penghamburan kekayaan negara yang langka.

C.    Peranan Sektor Pertanian dan Industri

1.      Sektor Pertanian
Perjalanan atau langkah-langkah pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Pembangunan pertanian di Indonesia dianggap penting karena wilayah Indonesia umumnya  merupakan wilayah agraris, yang umumnya penduduk tersebut bekerja sebagai petani atau bertani. Dan selain itu Indonesia juga memiliki peranan penting diantaranya yaitu : 1). Potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, 2). Pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, 3). Besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, 4). Besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, 5). Perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan 6). Menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani, masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan petani, tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Peranan sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil bahan kebutuhan pokok, sandang dan papan, menyediakan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar penduduk, memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang tinggi, memberikan devisa bagi negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang tinggi dengan rendahnya ketergantungan terhadap impor (multiplier effect), yaitu keterkaitan input-output antar industri, konsumsi dan investasi. Dampak pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian juga dapat menjadi basis dalam mengembangkan kegiatan ekonomi perdesaan melalui pengembangan usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan pertumbuhan tersebut ysng terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.[5]
Di suatu Negara besar seperti Indonesia, di mana ekonomi dalam negerinya masih didominasi oleh ekonomi pedesaan sebagian besar dari jumlah penduduknya atau jumlah tenagakerjanya bekerja di pertanian. Di Indonesia daya serap sektor tersebut pada tahun 2000 mencapai40,7 juta lebih. Jauh lebih besar dari sector manufaktur. Ini berarti sektor pertanian merupakansektor dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi.Kalau dilihat pola perubahan kesempatan kerja di pertanian dan industri manufaktur, pangsa kesempatan kerja dari sektor pertama menunjukkan suatu pertumbuhan tren yangmenurun, sedangkan di sektor kedua meningkat. Perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuaidengan yang di prediksi oleh teori mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi dari suatu proses pembangunan ekonomi jangka panjang, yaitu bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita, semakin kecil peran dari sektor primer, yakni pertambangan dan pertanian, dan semakin besar peran dari sektor sekunder, seperti manufaktur dan sektor-sektor tersier di bidang ekonomi. Namun semakin besar peran tidak langsung dari sektor pertanian, yakni sebagai pemasok bahan baku bagi sektor industri manufaktur dan sektor-sektor ekonomi lainnya.[6]
2.      Sektor Industri
Industri memiliki peran sebagai sektor pemimpin. Peran sektor pemimpin dalam kaitannya dengan keberhasilan sebuah pembangunan adalah dengan adanya pembangunan industri, maka diharapkan akan dapat memacu dan mendorong pembangunan sektor lainnya. Pertumbuhan industri yang cukup cepat akan mendorong adanya perluasan peluang kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan serta permintaan masyarakat. Adanya peningkatan dan daya beli itu menunjukkan bahwa perekonomian tersebut tumbuh dan sehat. Hubungan antara aktivitas pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja terlihat jika terdapat pertumbuhan ekonomi maka mengakibatkan meningkatnya aktivitas kegiatan ekonomi, demikian sebaliknya. Pertumbuhan Sektor Industri adalah proses kenaikan jumlah unit usaha industri. Pertumbuhan sektor industri diukur dengan indikator antara lain jumlah unit usaha sektor industri mengalami kenaikan dan pendapatan dari sektor industri meningkat.
Secara teori semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu sektor, maka semakin tinggi pertumbuhan kesempatan kerja sektor tersebut. Dengan kata lain hubungan sektor industri dengan penyerapan tenaga kerja sangat erat sekali. Semakin baik meningkat pertumbuhan sektor industri, maka semakin meningkat jumlah penyerapan tenaga kerja. “Kesempatan kerja adalah banyaknya orang yang dapat tertampung untuk bekerja pada suatu unit usaha atau lapangan pekerjaan” (BPS, 2015). Kesempatan kerja ini akan menampung semua tenaga kerja apabila lapangan pekerjaan yang tersedia mencukupi atau seimbang dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang ada. Adapun “lapangan pekerjaan adalah bidang kegiatan usaha atau instansi di mana seseorang bekerja atau pernah bekerja.”[7]
Sektor Industri dalam Pembangunan Ekonomi Nasional dapat ditelusuri dari kontribusi masing-masing subsektor terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional atau terhadap produk domestik bruto.
Pada beberapa negara yang tergolong maju, peranan sektor industri lebih dominan dibandingkan dengan sektor pertanian. Sektor industri memegang peran kunci sebagai mesin pembangunan karena sektor industri memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sektor lain karena nilai kapitalisasi modal yang tertanam sangat besar, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, juga kemampuan menciptakan nilai tambah (value added creation) dari setiap input atau bahan dasar yang diolah. Pada negara-negara berkembang, peranan sektor industri juga menunjukkan kontribusi yang semakin tinggi. Kontribusi yang semakin tinggi dari sektor industri menyebabkan perubahan struktur perekonomian negara yang bersangkutan secara perlahan ataupun cepat dari sektor pertanian ke sektor industri.[8]

D.    Menilai Kinerja Sektor Pertanian dan Industri

1.      Kinerja Sektor Pertanian
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di sektor pertanian mengalami penurunan pada kuartal pertama tahun 2016 dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2015 lalu. Data BPS menunjukkan angka pertumbuhan pertanian Indonesia pada kuartal pertama tahun ini hanya 1,85%. Angka pertumbuhan ini mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan pertanian Indonesia pada kuartal yang sama tahun 2015 yaitu mencapai 4,03%. Menurunnnya pertumbuhan pertanian ini berdampak cukup serius pada pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat sektor perdagangan Indonesia masih banyak berkutat pada sektor pertanian. Menurunnya pertumbuhan di bidang pertanian ini dianggap sebagai efek dari perubahan iklim yang terjadi secara global dan juga faktor perbankan yang terhambat. Adanya musim El Nino yang melanda Indonesia membuat masa panen hasil pertanian bergeser dari yang seharusnya dimulai pada bulan Maret menjadi bulan April.[9]
Hal inilah yang menjadi penyebab utama hasil pertumbuhan pertanian tidak sampai 2% pada tiga bulan pertama pada tahun 2016, padahal tahun sebelumnya pada periode yang sama bisa mendongkrak pertumbuhan hingga di atas 4%. Hal yang agak berbeda dinyatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution yang melihat pergeseran masa panen ini sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua nantinya. Faktor penyebab kedua yang menjadi penyebab sekunder melambatnya pertumbuhan pertanian adalah di bidang perbankan. Faktor perbankan yang menyebabkan pertumbuhan pertanian melambat dikarenakan penyaluran kredit yang melambat atau menurun. Hal ini tentu berpengaruh terhadap persediaan modal para petani untuk menghasilkan hasil tani yang berkualitas. Di samping itu investasi swasta juga ikut terpengaruhi oleh penyaluran kredit yang tersendat.
Kinerja pertanian yang menarik, jika pada 2014 laju inflasi bahan makanan mencapai 10,57%, pada 2015 turun drastis di angka 4,93%. Di 2016 naik tipis di angka 5,69%, tapi di 2017 menukik di angka 1,26%. Penurunan laju inflasi bahan makanan pada periode 2014-2017 ini merupakan pertama dalam sejarah pembangunan pertanian di Indonesia. 
Dari sisi nilai investasi pertanian juga mengalami peningkatan. Pada 2013 nilai investasi pertanian tercatat Rp 29,3 triliun. Angka ini meningkat pada 2014 yang mencapai Rp 44,8 triliun, 2015 (Rp 43,1 triliun), 2016 (45,4 triliun), 2017 (45,9 triliun), dan 2018 melejit di angka Rp 61,6 triliun. Jika diakumulasikan nilai investasi pertanian sejak 2013-2018 mencapai Rp 241 triliun atau meningkat sekitar 110,2%.
Berdasarkan analisis di atas, dinamika kinerja makro sektor pertanian periode 2012-2018 tidak terlepas dari kinerja makro perekonomian nasional. Oleh karena itu, perbaikan kinerja sektor pertanian perlu dilakukan oleh Kementrian Pertanian bekerjasama dengan para pemangku kepentingan lainnya. Meskipun PDB sektor pertanian terus tumbuh pada periode tersebut, kontribusinya terhadap PDB nasional cenderung menurun dan nilainya relatif kecil dibandingkan penyerapan tenaga kerjanya. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian dapat dilakukan dengan meningkatkan partisipasi generasi muda terdidik di sektor ini.
Strategi yang dapat dilakukan adalah transformasi digital dan penerapan teknologi praktis di bidang on-farm maupun off-farm serta memberi insentif pengembangan pertanian organik. Generasi milenial cenderung tertarik pada bisnis yang terintegrasi, memanfaatkan teknologi dan ramah lingkungan. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pasar dengan informasi simetrik sehingga petani dapat mengakses harga yang lebih baik. Peningkatan kapasitas teknis dan manajerial para petani khususnya petani muda juga perlu terus dilakukan. Penyiapan sumberdaya manusia khususnya kaum muda terdidik di sektor pertnaian dan infrastruktur digitial juga akan menjadi salah satu daya tarik investasi untuk modernisasi sektor ini.
Sementara itu, berkurangnya lahan baku sawah akibat alih fungsi lahan perlu diantisipasi dengan pencetakan dan optimasi pemanfaatan lahan baku sawah baru, konsolidasi lahan pertanian (consolidated farming), penguatan kelembagaan petani serta penerapan kebijakan untuk mengendalikan laju alih fungsi lahan yang lebih ketat. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan peraturan turunanannya perlu diimplementasikan dengan memperbaiki kontrol dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
Perlu dirumuskan kebijakan insentif untuk pemanfaatan lahan menganggur dan disinsentif/sanksi bagi pihak yang menelantarkan lahan pertanian. Pengembangan riset tentang benih/bibit dan teknologi/sistem produksi perlu terus dilakukan untuk memperbaiki produktivitas maupun indeks pertanaman.

2.      Kinerja Sektor Industri
Kinerja industri sangat dipengaruhi oleh karakteristik industri itu sendiri (padat modal, padat karya, padat teknologi, padat energi, padat material, padat tenaga ahli). Untuk industri yang padat karya, upah rata-rata tenaga kerja produksinya kecil, sebaliknya dengan industri yang padat teknologi. Industri padat teknologi seperti industri kendaraan bermotor, mesin, alat komunikasi tergantung dari kinerja efisiensi dan produktivitasnya. Kinerja industri juga dipengaruhi oleh usia industri. Industri kebutuhan primer (pangan dan sandang) hampir tidak lagi mengalami pertumbuhan atau mengalami pertumbuhan negatif dikarenakan usianya sudah sangat tua sehingga secara besaran sudah sangat besar dibanding subsektor lainnya. Industri-industri ini berkontribusi besar dalam PDB serta jumlah tenaga kerja dan perusahaannya sangat banyak.[10]
Pada tahun 2018 subsektor industri makanan dan minuman merupakan subsektor dengan penambahan tenaga kerja paling besar, yakni sebanyak 162.395 orang. Selanjutnya disusul oleh subsektor industri tekstil dan pakaian jadi dengan penambahan sebanyak 136.533 orang, kemudian subsektor industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik sebanyak 99.147 dan keempat subsektor industri kayu, barang dari kayu & gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dsj sebanyak 79.052 orang. Peningkatan tenaga kerja sektor industri terutama terjadi pada industri-industri yang padat karya seperti industri makanan dan minuman, dan industri tekstil dan pakaian jadi. Peningkatan tenaga kerja industri makanan dan minuman sebesar 3,4 persen sejalan dengan kenaikan PDB industri makanan dan minuman naik sepanjang tahun 2018 sebesar 7,91 persen. Sedangkan tenaga kerja industri tekstil dan pakaian jadi naik sebesar 3,6 persen seiring dengan peningkatan PDB industri tekstil dan pakaian jadi sepanjang tahun 2018 sebesar 8,73 persen. Sedangkan subsektor industri yang mengalami penurunan tenaga kerja atau pertumbuhan negatif antara lain: subsektor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, menurun sebanyak 25.040 orang dan industri logam dasar menurun sebanyak 16.466 orang. Hal ini disebabkan oleh efisiensi pada industri padat modal seperti industri logam dasar yang telah mengimplementasikan industri.[11]

E.     Permasalahan Pembangunan  Sektor Pertanian dan Industri

Dalam pengembangan sektor pertanian masih ditemui beberapa kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang berbasiskan agribisnis dan agroindustri. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian khususnya petani skala kecil, antara lain:
a.       Lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan.
Salah satu faktor produksi penting dalam usaha tani adalah modal. Secara umum pemilikan modal petani masih relatif kecil, karena modal ini biasanya bersumber dari penyisihan pendapatan usaha tani sebelumnya. Untuk memodali usaha tani selanjutnya petani terpaksa memilih alternatif lain, yaitu meminjam uang pada orang lain yang lebih mampu (pedagang) atau segala kebutuhan usaha tani diambil dulu dari toko dengan perjanjian pembayarannya setelah panen. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan petani sering terjerat pada sistem pinjaman yang secara ekonomi merugikan pihak petani.
b.      Ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah.
Kesuburan tanah sebagai faktor produksi utama dalam pertanian makin menurun. Permasalahannya bukan saja menyangkut makin terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan petani, tetapi juga berkaitan dengan perubahan perilaku petani dalam berusaha tani. Dari sisi lain mengakibatkan terjadinya pembagian penggunaan tanah untuk berbagai subsektor pertanian yang dikembangkan oleh petani.
c.       Terbatasnya kemampuan dalam penguasaan teknologi.
Usaha pertanian merupakan suatu proses yang memerlukan jangka waktu tertentu. Dalam proses tersebut akan terakumulasi berbagai faktor produksi dan sarana produksi yang merupakan faktor masukan produksi yang diperlukan dalam proses tersebut untuk mendapatkan keluaran yang diinginkan. Petani yang bertindak sebagai manajer dan pekerja pada usaha taninya haruslah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan berbagai faktor masukan usaha tani, sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha yang dilakukan.
d.      Lemahnya organisasi dan manajemen usaha tani.
Organisasi merupakan wadah yang sangat penting dalam masyarakat, terutama kaitannya dengan penyampaian informasi (top down) dan panyaluran inspirasi (bottom up) para anggotanya. Dalam pertanian, organisasi yang tidak kalah pentingnya adalah kelompok tani. Selama ini kelompok tani sudah terbukti menjadi wadah penggerak pengembangan pertanian di pedesaan. Hal ini dapat dilihat dari manfaat kelompok tani dalam hal memudahkan koordinasi, penyuluhan dan pemberian paket teknologi.
e.       Kurangnya kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia untuk sektor agribisnis.
Petani merupakan sumberdaya manusia yang memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu kegiatan usaha tani, karena petani merupakan pekerja dan sekaligus manajer dalam usaha tani itu sendiri. Ada dua hal yang dapat dilihat berkaitan dengan sumberdaya manusia ini, yaitu jumlah yang tersedia dan kualitas sumberdaya manusia itu sendiri. Kedua hal ini sering dijadikan sebagai indikator dalam menilai permasalahan yang ada pada kegiatan pertanian
2.      Kendala Dalam Pengembangan Sektor Industri Di Indonesia
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan industri di Indonesia kebijakan dan strategi pemgembangan sektor industri yang akan diterapkan hendaknya mampu menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam dunia usaha khususnya sektor industri.[12]
Permasalahan-permasalahan yang ada disektor industri harus bisa diatasi agar para pengusaha atau investor bergairah lagi menanamkan investasi di Indonesia.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi sektor industri adalah:
a.       Masalah Birokrasi
1)      Perizinan tidak transparan, berbelit-belit, diskriminatif, lama dan terjadi tumpang tindih vertikal (antara pusat dan daerah) serta horizontal (antar instansi daerah).
2)      Penegakan dan pelaksanaan hukum dan berbagai peraturan perundang-undangan masih cenderung kurang tegas.
3)      Administrasi perpajakan yang belum optimal. Pengusaha menganggap administrasi perpajakan terutama kaitanya dengan produk-produk ekspor yang sangat tidak efisien.
4)      Banyaknya pemungutan yang sering kali tidak disertai pelayanan yang memadai.
b.      Masalah Teknologi.
1)      Lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi. Penerapan teknologi tepat guna belum banyak dimanfaatkan oleh industri untuk meningkatkan produksi.
2)      Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan dipertahankan karena kualitas sumber daya manusia relatif rendah.
c.       Masalah Bahan Baku
1)      Suplai bahan baku kurang memadai antara lain karena kesulitan dalam memperoleh bahan baku dipasaran.
2)      Harga bahan baku terlalu tinggi terutama bahan baku yang berasal dari impor karena tergantung nilai kurs terhadap dolar.
d.      Masalah Pemasaran
1)      Pemasaran hasil produksi agak sulit dan harganya rendah sehingga hasil penjualan tidak mampu menutupi biaya produksi yang cukup tinggi.
2)      Permintaan produk dipasaran sangat rendah walaupun harganya rendah karena kalah bersaing dengan perusahaan lain.
3)      Asosiasi pengusaha belum berperan dalam mengkoordinasikan produk sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat antar usaha sejenis.
e.       Masalah Permodalan
1)      Sistem dan prosedur kredit dari lembaga keungan dan nonbank rumit dan lama sehingga dalam pencairan kredit sangat lama.
2)      Suku bunga kredit perbankan cukup tinggi sehingga kredit menjadi mahal.
f.        Masalah Manejemen
1)      Pola manegemen yang sesuai dengan kebutuhan sebelum bisa diterapakan karena pengetahuan dam manegerial skill relatif rendah sehingga strategi bisnis yang tepat belum mampu disusun dengan baik.
2)      Kemampuan pengusaha mengorganisasikan diri dan karyawan masih lemah sehingga terjadi pembagian kerja yang tidak tepat.
3)      Produktifitas karyawan masih rendah sedangkan intensitas pelatihan yang dilaksanakan oleh industri belum juga menggembirakan.
g.      Permasalahn Industri Kecil
1)      Sebagian besar industri kecil yang ada merupakan usaha sampingan atau pelengkap bagi pengusaha kecil dengan produksi yang berfluktuasi cukup besar atau berpola musiman atau tidak beraturan.
2)      Sikap dan reaksi pengusaha industri kecil yang ada pada umunya lambat dan kurang tanggap untuk mengikuti perkembangan sehubungan dengan latar belakang budaya agraris.
3)      Sulitnya menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan industri kecil dalam rangka peningkatan mutu dan pengembangan produk baru.
4)      Volume permintaan atas hasil produksi industri kecil pada umunya terbatas secara geografis.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sektor pertanian  dan industri merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional.  Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi kedua sektor ini. Program-program pembangunan tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan  kedua sektor pada kehancuran. Meski demikian kedua sektor ini merupakan sektor yang  banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung pada mereka.
Di sisi lain, Banyak hal yang harus kita lakukan dalam mengembangkan pertanian pada masa yang akan datang. Kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan tujuan utama yang menjadi prioritas dalam melakukan program apapun. Tentu hal itu tidak boleh hanya menguntungkan satu golongan saja namun diarahkan untuk mencapai pondasi yang kuat pada pembangunan nasional. Pembangunan adalah penciptaan sistem dan tata nilai yang lebih baik hingga terjadi keadilan dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Pembangunan pertanian harus mengantisipasi tantangan demokratisasi dan globalisasi untuk dapat menciptakan sistem yang adil. Selain itu harus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, khususnya petani melalui pembangunan sistem pertanian dan usaha pertanian yang kuat dan mapan. Dimana Sistem tersebut harus dapat berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralistik.

B.     Saran

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi kami untuk menerima kritik dan saran dalam bentuk apapun untuk kedepannya yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA


Pujoalwanto, Basuki. 2014. “Perekonomian Indonesia”. Yogyakarta : Graha ilmu.
Dewi Setiawati, Nachrowi, “Pengembangan Indeks Kinerja Industri”, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia vol. 13 No.1, 2012, hal 16.
Supriyati, Erma Suryani,”Peranan, Peluang dan Kendala Pengembangan Argoindustri Di Indonesia”, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, hal 9.
Yasrizal, Ishak Hasan, “Pengaruh Pembangunan Sektor Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan dan Kesempatan Kerja Di Indonesia”. JIEP Vol.16, No.1, 2016, hal 7
Peranan perytanian
Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Indonesia tahun 2019. Jakarta.
Biro Perencanaan Sekretariat Jendral, “Laporan Kinerja Laporan Perindustrian 2018”, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia.



[1] Basuki pujoalwanto, “Perekonomian Indonesia”, 2014, hal 201
[2] Ibid, hal 201
[3] Basuki pujoalwanto, “Perekonomian Indonesia”, 2014, hal.221
[4] Ibid, hal 222
[5] Peranan perytanian
[6] https://blog.ub.ac.id/nitasetiadewi/2013/10/01/peran-sektor-pertanian-dalam-perekonomian-indonesia/
[8] https://lh3i4r.wordpress.com/2010/05/09/peranan-sektor-industri-dalam-pembangunan-ekonomi-indonesia/
[9] Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Indonesia tahun 2019. Jakarta.
[10] Dewi Setiawati, Nachrowi, “Pengembangan Indeks Kinerja Industri”, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia
[11] Biro Perencanaan Sekretariat Jendral, “Laporan Kinerja Laporan Perindustrian 2018”, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia.
[12] Supriyati, Erma Suryani, “Peranan, Peluang dan Kendala Pengembangan Argoindustri Di Indonesia”, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, hal 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH EKONOMI MAKRO TENAGA KERJA