MAKALAH SEJARAH SISTEM EKONOMI ISLAM
PERKEMBANGAN EKONOMI DINASTI ABBASIYAH
DAFTAR ISI
JUDUL .............................................................................................................. i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. ii
B. Rumusan Masalah
............................................................................. ii
C. Tujuan
Penulisan ............................................................................... ii
BAB
II PEMBAHASAN
A. Khalifah
Dinasti Abbasiyah...............................................................
1
B. Perkembangan Ekonomi Bani Abbasiyah..........................................
3
C. Tradisi Ekonomi
Masa Bani Abbasiyah ............................................ 4
D. Kebijakan
Adminstrasi Keuangan Bani Abbasiyah .......................... 6
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 9
B. Saran .................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 11
BAB I
PEDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berdasarkan catatan sejarah,
Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat saat kepemimpinan Bani Umayyah dan
Bani Abbasiyah. Sehingga peradaban Islam memberi pengaruh yang besar kepada
dunia pada saat itu. Para sejarawan menyebut saat itu adalah berada pada masa
puncak kejayaan atau yang disebut dengan “The
Golden Age”. Islam mengalami kemajuan pesat diberbagai bidang peradaban,
ilmu pengetahuan, politik dan pemerintahan, sains dan teknologi juga dibidang
ekonomi.
Dalam
peradaban ummat Islam, Bani Abbasiyah merupakan salah satu bukti sejarah
peradaban ummat Islam yang terjadi. Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan
ummat Islam yang memperoleh masa kejayaan yang gemilang. Hal inilah yang perlu
untuk kita ketahui sebagai acuan semangat bagi generasi ummat Islam bahwa
peradaban ummat Islam itu pernah memperoleh masa keemasan yang
melampaui kesuksesan negara-negara Eropa. Dengan kita mengetahui
bahwa dahulu peradaban ummat Islam itu diakui oleh seluruh
dunia, maka akan memotifasi sekaligus menjadi ilmu pengetahuan kita
mengenai sejarah peradaban ummat Islam sehingga kita akan mencoba untuk
mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi ummat Islam saat
ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Siapa sajakah
khilafah kepemimpinan pada masa Dinasti Abbasiyah?
2. Bagaimana
perkembangan ekonomi pada masa Dinasti Abbasiyah?
3. Apa sajakah
tradisi ekonomi yang
diterapkan pada masa Dinasti Abbasiyah?
4. Bagaimanakah
kebijakan administrasi keuangan negara Abbasiyah?
C. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui khilafah
kepemimpinan pada masa Dinasti Abbasiyah.
2. Untuk
mengetahui perkembangan
ekonomi pada masa Dinasti Abbasiyah.
3. Untuk
mengetahui tradisi ekonomi yang
diterapkan pada masa Dinasti Abbasiyah.
4. Untuk
mengetahui kebijakan
administrasi keuangan negara Abbasiyah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. DINASTI ABBASIYAH
Dinasti
abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat islam.
Dinasti Abbasiyah
merupakan pengganti dari kekuasaan Dinasti Umayyah yang terlebih dulu berkuasa.
Abbasiyah dinisbatkan terhadap Al-Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad yang
bediri sebagai bentuk dukungan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya
Rasulullah SAW. Yang bertujuan untuk menyandarkan khilafah kepada keluarga Rasulullah dan
kerabatnya.
Pada awal kekhalifahan Bani
Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu As-Saffah
(750-754M) sebagai khalifah pertama yang kemudian digantikan oleh anaknya yaitu
Abu Ja’far Al-Mansur (754-775M) yang
memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Sedangkan menurut asal-usul
penguasa selama masa 508 tahun, Bani Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian
penguasa, yakni Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk.[1]
Adapun rincian susunan penguasa pemerintahan Bani
Abbasiyah adalah sebagai berikut:
a.
Bani Abbas (750-932M)
1)
Khalifah Abu Abbas As-Saffah (750-754M)
2)
Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (574-775M)
3)
Khalifah Al-Mahdi (775-785M)
4)
Khalifah Al-Hadi (785-786M)
5)
Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809M)
6)
Khalifah Al-Amin (809-813M)
7)
Khalifah Al-Ma’mun (813-833M)
8)
Khalifah Al-Mu’tasim (833-842M)
9)
Khalifah Al-Wasiq (842-847M)
10)
Khalifah Al-Mutawakkil (847-861M)
b.
Bani Buwaihi (932-1075M)
1)
Khalifah Al-Khahir (932-934M)
2)
Khalifah Al-Radi (934-940M)
3)
Khalifah Al-Mustaqi (934-944M)
4)
Khalifah Al-Muktakfi (944-946M)
5)
Khalifah Al-Mufi (946-974M)
c.
Bani Saljuk
1)
Khalifah Al-Mu’tadi (1075-1048M)
2)
Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118M)
3)
Khalifah Al-Mustasid (1118-1135M)
Masa
Daulah Abasiyah adalah masa keemasan Islam
yang disebut dengan istilah “the golden age” pada masa itu umat Islam berada pada puncak kejayaan baik
dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan. Dalam cabang ilmu pengetahuan
banyak buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa asing ke bahasa arab. Fenomena
ini kemudian melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan
berbagai inovasi baru dibidang ilmu pengetahuan. Bani Abbasiyah mewarisi
imperium besar Bani Umayyah hal ini memungkinkan Bani Abasiyah mencapai hasil
yang lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Bani Umayyah.
Menjelang tumbangnya Bani Umayyah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai
bidang kehidupan bernegara. Seperti terjadinya kekeliruan yang dibuat oleh para
kholifah dan pembesar negara lainnya sehingga terjadilah
pelanggaran-pelangggaran terhadap ajaran islam, selanjutnya pengucilan
dilakukan Bani Umayyah yang dilakukan kaum mawali yang menyebabkan
ketidakpuasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan.
Periode-periode Bani Abasiyah berhasil
menggulingkan dinasti Umayyah pada tahun 1975.
Bani Abasiyah dibagi menjadi 3 periode, yaitu:[2]
1.
Periode pertama berlangsung pada tahun (132H.-232H./847M.). Pada periode ini
kekuasaan berada ditangan para Khalifah secara penuh.
2.
Periode kedua berlangsung pada tahun (232H./847M.-590H./1199M.). Pada periode ini
kekuasaan politik berpindah tangan Khalifah kepada golongan Turki (232-334 H),
Bani Buwaih (334-447 H) dan Bani Saljuq (447-590 H).
3.
Periode ketiga berlangsung dari tahun (590H./1199M.-656H./1258M.). Pada periode ini kekuasaan berada kembali pada tangan
Khalifah, tetapi hanya di Baghdad
dan sekitarnya.
Diantara
perode-periode pemerintahan tersebut, dinasti Abasiyah mencapai masa keemasan
pada periode pertama. Pada masa ini secara politis para kholifah benar-benar
tokoh yang kuat dan merupakan pusat politik dan juga agama. Disisi lain
kemakmuran, masyarakat
mencapai puncaknya. Periode ini berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam.[3]
B.
PERKEMBANGAN EKONOMI BANI
ABBASIYAH
Perkembangan peradaban Islam terjadi banyak sektor
terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah. Upaya kearah kemajuan ini
sebenarnya sudah mulai sejak masa pemerintahan Al-Mansur yaitu dengan
dipindahkannya pemerintahan ke Baghdad tiga tahun setelah dia dilantik menjadi
Khalifah. Dijadikannya kota Baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu
mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan dibidang ekonomi.
Baghdad merupakan sebuah kota yang terlerak didaerah yang sangat strategis bagi
perniagaan dan perdagangan. Sungai Tigris bisa dilayari sampai kota ini, begitu
juga terdapat jalur pelayaran ke sungai Eufrat yang cukup dekat sehingga
barang-barang perdagangan dan perniagaan dapat diangkut mengalir menghilir
sungai Eufrat dan Tigris menggunakan perahu-perahu kecil. Disamping itu yang
terpenting adalah terdapatnya jalan nyaman dan aman dari semua jurusan. Baghdad
akhirnya menjadi daerah yang sangat ramai karena disamping sebagai ibukota
kerajaan, juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada saat itu. Dari situlah
negara akan mendapatkan devisa yang sangat besar jumlahnya. Selain dibidang
ekonomi, ilmu pengetahuan dan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah juga
berkembang diiringi pula dengan bertambahnya jumlah penduduk yang dimana
semakin pesat pertumbuhannya maka semakin besar dan banyak pula faktor
permintaan pasar (demand). Hal ini pada akhirnya memicu produktivitas ekonomi
yang tinggi. Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan
pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar Asia dan Eropa sehingga
indutri dibidang penenunan seperti kain, karpet dan bahan-bahan sandang lainnya
berkembang pesat. Bahan-bahan utama yang
digunakan dalam industri ini adalah kapas, sutra dan wol. Sementara industri
lain yang juga berkembang pesat antara lain pecah belah, keramik dan parfum.
Disamping itu berkembang pula industri kertas yang dibawa ke Samarkand oleh
para tawanan perang China tahun 751M. Di Samarkand inilah produksi dan ekspor
kertas dimulai. Hal ini rupanya mendorong pemerintahan pada masa Harun
Ar-Rasyid melalui wazirnya Yahya untuk mendirikan pabrik kertas pertama di
Baghdad sekitar tahun 800M. Komoditas lain berorientasi komersial pada logam,
kertas tekstil, pecah belah, hasil laut dan obat-obatan. Kemajuan dibidang
ekonomi tentunya berimbas pada kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Puncak
kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun Ar-Rasyid (786-809M) dan putranya
Al-Ma’mun (813-833M). Kekayaan yang melimpah pada masa ini digunakan untuk
kegiatan-kegiatan diberbagai bidang seperti sosial, pendidikan, kebudayaan,
ilmu pengetahuan, kesehatan, kesusastraan dan pengadaan fasilitas-fasilitas
umum. Pada masa inilah berbagai bidang tersebut mencapai puncak
keemasannya.
C.
TRADISI EKONOMI PADA MASA BANI ABBASIYAH
Sektor
pembangunan dibidang ekonomi merupakan masalah sentral dalam pembangunan suatu
negara. Ekonomi dapat dikatakan sebagai tulang punggung dalam kehidupan suatu
negara. Tanpa didukung oleh perekonomian yang kuat, mustahil suatu negara dapat
melaksanakan pembangunan-pembangunan dibidang yang lain secara baik dan
sempurna. Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah pertumbuhan ekonomi dikatakan
cukup stabil. Devisa negara berlimpah, uang masuk lebih banyak daripada uang
keluar. Pada masa permulaan dinasti abbasiyah, semua khalifah menaruh perhatian
besar terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan negara. Sektor-sektor
perekonomian yang dikembangkan meliputi pertanian, perindustrian, dan
perdagangan.
1. Pertanian
Disektor pertanian pada masa dinasti abbasiyah mereka sangat menghormati dan membela kaum tani,
bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka. Dan sector pertanian
dikelola secara intensif.
Perkembangan bidang Pertanian maju pesat karena pusat pemerintahannya berada di
kawasan yang sangat subur , ditepian sungai yang dikenal dengan nama Sawad .
Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir
sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli . Usaha-usaha
yang dilakukan antara lain:
a.) Memperlakukan
ahl zimmah dan mawali dengan perlakuan yang baik dan adil, serta menjamin hak
milik dan jiwa mereka, hingga kembalilah bertani diseluruh penjuru negeri.
b.) Mengambil
tindakan keras terhadap pemerintah yang berlaku kejam kepada para petani.
c.) Memperluas
daerah-daerah pertanian disetiap wilayah negara.
d.) Membangun
dan menyempurnakan perhubungan kedaerah-daerah pertanian, baik darat ataupun
air.
e.) Membangun
bendungan-bendungan dan kanal-kanal, baik besar ataupun kecil sehingga tidak
ada daerah pertanian yang tidak ada irigasi.
Dengan langkah seperti itu maka pertanian
menjadi maju pesat, tidak hanya di Irak saja yang terkenal subur, tapi juga
seantero negeri. Tiap-tiap wilayah mempunyai kekhususan dalam pertanian.
Seperti kurma yang banyak di hasilkan di
Jerid, Teluk Persia, dan Tunis Selatan. Kacang-kacangan dihasilkan di daerah
Tebessa, Jagung banyak dihasilkan di Mediterania, Gabah di Syiria, gula di
Mesir, dan kunyit di Yaman.
Dalam batas tertentu, ilmu-ilmu pertanian
diadopsi dari Yunani melalui penerjemahan buku-buku tertentu. Salah satu buku
panduan pertanian yang paling dikenal adalah al-Filaha al-Rumiyah (Pertanian
Romawi), yang merupakan buku panduan orang-orang Bizantiyum.
2. Perindustrian
Pada
masa dinasti Abbasiyah dibangun tempat-tempat perindustrian hampir meliputi
seluruh wilayah negeri. Perindustrian terbesar dari sektor pertambangan
meliputi : tambang perak, tembaga, seng, dan besi yang dihasilkan dari Persia
dan Khurasan. Di Beirut terdapat beberapa tambang besi, di Tibris terdapat
marmer, mutiara di Bahrain, besi di Lebanon, pirus di Naysabur. Sedangkan dalam
indusri batu-batuan, terdapat permata di Khurasan, batu kristal di Maghrib,
kaca di Syiria, Mesir, dan Iran. Pada industri tekstil terdapat karpet yang
berada di Iran dan Irak, wol di Armenia, kain brokat di Fars, dan sutra di
Kaspia.
3. Perdagangan
Ekonomi
imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam
industri aeperti kain linen di Mesir, sutra dari Irak, kertas dari Samarkand,
serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan kurma dari Iraq.
Hasil hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah
kekuasaan Abbasyah dan negara lain. Kota Baghdad merupakan kota perdagangan
terbesar saat itu. Sedangkan Damaskus meerupakan kota dagang nomor dua ,
sebagaai transit bagi para khafilah dagang dari Asia kecil , dan daerah-daerah
Furat yang menuju ke negeri Arab dan Mesir, atau sebaliknya.
Adapun segala usaha yang
ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti :
a. Membangun
sumur dan tempat istirahat di jalan-jalan yang melewati khafilah dagang.
b. Membangun
armada-armada dagang.
c. Membangun
armada untuk melindungi partai-partai negara dari serangan bajak laut.
Sungai
Tigris dan Furat merupakan sungai yang menjadi pelabuhan transmisi bagi
kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangaan
tingkat internasional ini semenjak khalifah Al-Mansur.[4]
Kemajuan
ekonomi yang begitu pesat ini juga dilatarbelakangi oleh para Khalifah yang
memiliki latar belakang saudagar Makkah. Seperti diketahui aktifitas ekonomi
khususnya perdagangan sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari bangsa Arab,
bahkan Nabi sendiri adalah saudagar, demikian juga para sahabatnya.[5] Karena industralisasi yang
muncul di perkotaan ini, urbanisasi tidak dapat terbendung lagi . Selain itu
perdagangan barang tambang juga semarak . Secara bersamaan dengan kemajuan
Daulah Abbasiyah , Dinasti Tang di Cina juga mengalami puncak kejayaan sehingga
hubungan perdagangan keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia .
D.
KEBIJAKAN ADMININSTRASI KEUANGAN NEGARA ABBASIYAH
Dalam bidang administrasi negara, masa Dinasti
Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan masa Dinasti Umayyah. Hanya saja pada masa
ini telah mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan dan penyempurnaan. Secara umum
kendali pemerintahan dipegang oleh khalifah sendiri, sementara dalam operasinya
yang menyangkut urusan-urusan sipil dipegang oleh wazir (menteri), masalah
hukum diserahkan kepada qadi’ (hakim) dan masalah militer dipegang oleh ‘amir
(jenderal). Sistem pemerintahan Abbasiyah bersifat sentralisasi. Dalam keadaan
darurat sering khalifah menyerahkan pemerintahan kepada panglima besar angkatan
perang yang diberi gelar “Amiru Al-Umara”.
1.
Sumber Pemasukan Negara
Pemungutan
pajak merupakan sumber utama pemasukan atau pendapatan negara Abbasiyah ,
sedangkan sumber pendapatan lainnya dari zakat wajib atas setiap orang
islam. Zakat dibebankan atas tanah
produktif, hewan ternak, emas dan perak, barang dagang dan harta milik lainnya
. para pemunguk pajak resmi mengurus pajak tanah, hewan ternak, sedangkan
pemungutan pajak atas barang milik sendiri diserahkan pada kesadaraan diri
masing masing individu . semua hasil uang yang terkumpul disalurkan oleh kantor
perbedaharaan negara untuk kepentingan orang islam sendiri , seperti orang
miskin, anak yatim, musafir dan lain lain . semua pemasukan ini dimasa modern
disebut fay ( lihat dan bandingkan
Q.S 59:7) dan disalurkan oleh khalifah
untuk membayar tentara , memelihara masjid, jalan dan jembatan .
Adapun
tentang pengeluaran, data yang kita miliki dari berbagai sumber tentunya .
sekalipun demikian , diriwayatkan bahwa ketika Al- Mansyur meninggal kas negara
berjumlah 600 juta dirham dan 14 juta dinar . ketika Ar- Rasyid meninggal,
jumlahnya mencapai lebih dari 900 juta
dirham . Oleh karena itu , masa Abbasiyah merupakan masa keemasaan atau masa
kejayaan umat islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban .
2.
Anggaran Pengeluaran Negara
Besar pendapatan negara seiring pula dengan pengeluaran negara
yang mencakup berbagai divisi pemerintahan yang telah dibentuk pemerintahan
Abbasiyah, yaitu sebagai berikut:
1.
Administrasi
pemerintahan dengan biro bironya
2.
Sistem organisasi
militer
3.
Administrasi
wilayah pemerintahan
4.
Petanian,
perdagangan , dan industri
5.
Islamisasi pemerintahan
6.
Kajian dalam
bidang kedongteran, astronomi, matematika, geografi, hitoriorafi, filsafat
islam dan lain lain .
7.
Pendidikan,
kesenian, arsitektur meliputi pendidikan dasar (khuttab), menengah, dan
perguruan tinggi, erpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni
musik, dan arsitek.
[1] Sulesana Volume 8 Nomor 2 Tahun 2013
[2] Ahmad
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid3 (Pustaka Alhusna : Jakarta 1983),
h. 2-3,
[3] Badri
yatim, Sejarah Peradaban Islam: Diarasah Islamiyah (Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 1994), h.50.
[4] Philip
K. Hitti, op.cit., hal. 343
[5] Aktifitas
ekonomi bangsa Arab ini sampai diabadikan dalam AL-Quran yaitu dalam surat
Al-Quraisy
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dinasti abbasiyah merupakan dinasti
kedua dalam sejarah pemerintahan umat islam. Dinasti Abbasiyah merupakan pengganti dari
kekuasaan Dinasti Umayyah yang terlebih dulu berkuasa. Pada awal kekhalifahan
Bani Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu
As-Saffah (750-754M) sebagai khalifah pertama yang kemudian digantikan oleh
anaknya yaitu Abu Ja’far Al-Mansur (754-775M) yang memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad.
Sedangkan menurut asal-usul penguasa selama masa 508 tahun, Bani Abbasiyah
mengalami tiga kali pergantian penguasa, yakni Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan
Bani Seljuk.
Puncak kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun
Ar-Rasyid (786-809M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833M). Kekayaan yang melimpah
pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan diberbagai bidang seperti
sosial, pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kesehatan, kesusastraan dan
pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa inilah berbagai bidang tersebut
mencapai puncak keemasannya.
Sektor pembangunan dibidang ekonomi
merupakan pada masa pemerintahan bani Abbasiyah dikatakan cukup stabil. Devisa
negara berlimpah, uang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Pada masa
permulaan dinasti abbasiyah, semua khalifah menaruh perhatian besar terhadap
perkembangan ekonomi dan keuangan negara. Sektor-sektor perekonomian yang
dikembangkan meliputi pertanian, perindustrian, dan perdagangan.
Dalam
bidang administrasi Negara masa Dinasti Abbasiyah telah mengalami
kemajuan-kemajuan, perbaikan dan penyempurnaan. Secara umum kendali
pemerintahan dipegang oleh khalifah sendiri, sementara dalam operasinya yang
menyangkut urusan-urusan sipil dipegang oleh wazir (menteri), masalah hukum
diserahkan kepada qadi’ (hakim) dan masalah militer dipegang oleh ‘amir
(jenderal).
B. SARAN
Kami berharap setelah kita
mempelajari pembahasan materi ini, kita dapat mengetahui mengenai khilafah
kepemimpinan, perkembangan ekonomi, tradisi ekonomi dan kebijakan administrasi
keuanagan pada masa Dinasti Abbasiyah. Dari penejelasan di atas kita sebagai umat islam dapat
mengambil pelajaran. Suatu sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian
tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian Dinasti Abbasiyah. Mereka bisa
mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang
menomorduakan mereka. Selain itu, dari sejarah kekuasaan Dinasti Abbasiyah kita
juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan saat ini yaitu ilmu
pengetahuan.
Sebaliknya,
kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada pada dinasti besar
ini agar tidak sampai terjadi pada diri kita dan anak cucu kita. Mereka telah
dibutakan oleh kekuasaan, sehingga mereka tega membantai hampir seluruh
keluarga Dinasti Umayyah yang notabenya adalah sesama umat Islam.
Dan
kami juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritikan dan masukan yang konstruktif dari
berbagai pihak sangat kami harapkan agar dalam penyusunan makalah selanjutnya
akan semakin mendekati kebenaran.
Daftar Pustaka
Abdullah,
Boedi. 2010. Peradaban pemikiran ekonomi islam. Bandung:
pustaka setia.
Naila
Farah. 2017. Perkembangan Ekonomi dan Administrasi pada Masa Bani Umayyah dan
Abassiyah. Jurnal sejarah. 6(2): 25-46.
Maslihtin.
2018. Sejarah Kota Baghdad Dalam Peradaban Islam Masa Abbasiyah Tahun 762-1258
M [skripsi]. Surabaya (ID): Universitas Islam Negeri Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar