Kamis, 16 April 2020


MAKALAH SEJARAH SISTEM EKONOMI ISLAM
PERKEMBANGAN EKONOMI DINASTI ABBASIYAH

DAFTAR ISI
JUDUL ..............................................................................................................  i
DAFTAR ISI ....................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................  ii
B. Rumusan Masalah .............................................................................  ii
C. Tujuan Penulisan ...............................................................................  ii

BAB II PEMBAHASAN
A. Khalifah Dinasti Abbasiyah............................................................... 1   
B. Perkembangan Ekonomi Bani Abbasiyah.......................................... 3
C. Tradisi Ekonomi Masa Bani Abbasiyah ............................................  4
D. Kebijakan Adminstrasi Keuangan Bani Abbasiyah ..........................  6

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 9
B. Saran .................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 11



 BAB I
PEDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Berdasarkan catatan sejarah, Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat saat kepemimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Sehingga peradaban Islam memberi pengaruh yang besar kepada dunia pada saat itu. Para sejarawan menyebut saat itu adalah berada pada masa puncak kejayaan atau yang disebut dengan “The Golden Age”. Islam mengalami kemajuan pesat diberbagai bidang peradaban, ilmu pengetahuan, politik dan pemerintahan, sains dan teknologi juga dibidang ekonomi.
Dalam peradaban ummat Islam, Bani Abbasiyah merupakan salah satu bukti sejarah peradaban ummat Islam yang terjadi. Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang memperoleh masa kejayaan yang gemilang. Hal inilah yang perlu untuk kita ketahui sebagai acuan semangat bagi generasi ummat Islam bahwa peradaban ummat Islam itu pernah memperoleh masa keemasan yang melampaui  kesuksesan negara-negara Eropa. Dengan kita mengetahui bahwa dahulu peradaban ummat Islam itu diakui oleh seluruh dunia,  maka akan memotifasi sekaligus menjadi ilmu pengetahuan kita mengenai sejarah peradaban ummat Islam sehingga kita akan mencoba untuk mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi ummat Islam saat ini.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Siapa sajakah khilafah kepemimpinan pada masa Dinasti Abbasiyah?
2.      Bagaimana perkembangan ekonomi pada masa Dinasti Abbasiyah?
3.      Apa sajakah tradisi ekonomi yang diterapkan pada masa Dinasti Abbasiyah?
4.      Bagaimanakah kebijakan administrasi keuangan negara Abbasiyah?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui khilafah kepemimpinan pada masa Dinasti Abbasiyah.
2.      Untuk mengetahui perkembangan ekonomi pada masa Dinasti Abbasiyah.
3.      Untuk mengetahui tradisi ekonomi yang diterapkan pada masa Dinasti Abbasiyah.
4.      Untuk mengetahui kebijakan administrasi keuangan negara Abbasiyah.








BAB II
PEMBAHASAN

A.      DINASTI ABBASIYAH
Dinasti abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat islam. Dinasti Abbasiyah merupakan pengganti dari kekuasaan Dinasti Umayyah yang terlebih dulu berkuasa. Abbasiyah dinisbatkan terhadap Al-Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad yang bediri sebagai bentuk dukungan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah SAW. Yang bertujuan untuk menyandarkan khilafah kepada keluarga Rasulullah dan kerabatnya.   
            Pada awal kekhalifahan Bani Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu As-Saffah (750-754M) sebagai khalifah pertama yang kemudian digantikan oleh anaknya yaitu Abu Ja’far Al-Mansur (754-775M) yang  memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Sedangkan menurut asal-usul penguasa selama masa 508 tahun, Bani Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa, yakni Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk.[1]
Adapun rincian susunan penguasa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut:
a.    Bani Abbas (750-932M)
1)        Khalifah Abu Abbas As-Saffah (750-754M)
2)        Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (574-775M)
3)        Khalifah Al-Mahdi (775-785M)
4)        Khalifah Al-Hadi (785-786M)
5)        Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809M)
6)        Khalifah Al-Amin (809-813M)
7)        Khalifah Al-Ma’mun (813-833M)
8)        Khalifah Al-Mu’tasim (833-842M)
9)        Khalifah Al-Wasiq (842-847M)
10)    Khalifah Al-Mutawakkil (847-861M)


b.    Bani Buwaihi (932-1075M)
1)        Khalifah Al-Khahir (932-934M)
2)        Khalifah Al-Radi (934-940M)
3)        Khalifah Al-Mustaqi (934-944M)
4)        Khalifah Al-Muktakfi (944-946M)
5)        Khalifah Al-Mufi (946-974M)
c.    Bani Saljuk
1)        Khalifah Al-Mu’tadi (1075-1048M)
2)        Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118M)
3)        Khalifah Al-Mustasid (1118-1135M)
Masa Daulah Abasiyah adalah masa keemasan Islam yang disebut dengan istilah “the golden age” pada masa itu umat Islam berada pada puncak kejayaan baik dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan. Dalam cabang ilmu pengetahuan banyak buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa asing ke bahasa arab. Fenomena ini kemudian melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru dibidang ilmu pengetahuan. Bani Abbasiyah mewarisi imperium besar Bani Umayyah hal ini memungkinkan Bani Abasiyah mencapai hasil yang lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Bani Umayyah. Menjelang tumbangnya Bani Umayyah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. Seperti terjadinya kekeliruan yang dibuat oleh para kholifah dan pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelangggaran terhadap ajaran islam, selanjutnya pengucilan dilakukan Bani Umayyah yang dilakukan kaum mawali yang menyebabkan ketidakpuasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan.
  Periode-periode Bani Abasiyah berhasil menggulingkan dinasti Umayyah pada tahun   1975. Bani Abasiyah dibagi menjadi 3 periode, yaitu:[2]
1.        Periode pertama berlangsung pada tahun (132H.-232H./847M.). Pada periode ini kekuasaan berada ditangan para Khalifah secara penuh.
2.        Periode kedua berlangsung pada tahun (232H./847M.-590H./1199M.). Pada periode ini kekuasaan politik berpindah tangan Khalifah kepada golongan Turki (232-334 H), Bani Buwaih (334-447 H) dan Bani Saljuq (447-590 H).
3.        Periode ketiga berlangsung dari tahun (590H./1199M.-656H./1258M.). Pada periode ini kekuasaan berada kembali pada tangan Khalifah, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya.
Diantara perode-periode pemerintahan tersebut, dinasti Abasiyah mencapai masa keemasan pada periode pertama. Pada masa ini secara politis para kholifah benar-benar tokoh yang kuat dan merupakan pusat politik dan juga agama. Disisi lain kemakmuran, masyarakat mencapai puncaknya. Periode ini berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam.[3]

B. PERKEMBANGAN EKONOMI BANI ABBASIYAH
Perkembangan peradaban Islam terjadi banyak sektor terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah. Upaya kearah kemajuan ini sebenarnya sudah mulai sejak masa pemerintahan Al-Mansur yaitu dengan dipindahkannya pemerintahan ke Baghdad tiga tahun setelah dia dilantik menjadi Khalifah. Dijadikannya kota Baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan dibidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terlerak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Sungai Tigris bisa dilayari sampai kota ini, begitu juga terdapat jalur pelayaran ke sungai Eufrat yang cukup dekat sehingga barang-barang perdagangan dan perniagaan dapat diangkut mengalir menghilir sungai Eufrat dan Tigris menggunakan perahu-perahu kecil. Disamping itu yang terpenting adalah terdapatnya jalan nyaman dan aman dari semua jurusan. Baghdad akhirnya menjadi daerah yang sangat ramai karena disamping sebagai ibukota kerajaan, juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada saat itu. Dari situlah negara akan mendapatkan devisa yang sangat besar jumlahnya. Selain dibidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah juga berkembang diiringi pula dengan bertambahnya jumlah penduduk yang dimana semakin pesat pertumbuhannya maka semakin besar dan banyak pula faktor permintaan pasar (demand). Hal ini pada akhirnya memicu produktivitas ekonomi yang tinggi. Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar Asia dan Eropa sehingga indutri dibidang penenunan seperti kain, karpet dan bahan-bahan sandang lainnya berkembang pesat.  Bahan-bahan utama yang digunakan dalam industri ini adalah kapas, sutra dan wol. Sementara industri lain yang juga berkembang pesat antara lain pecah belah, keramik dan parfum. Disamping itu berkembang pula industri kertas yang dibawa ke Samarkand oleh para tawanan perang China tahun 751M. Di Samarkand inilah produksi dan ekspor kertas dimulai. Hal ini rupanya mendorong pemerintahan pada masa Harun Ar-Rasyid melalui wazirnya Yahya untuk mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad sekitar tahun 800M. Komoditas lain berorientasi komersial pada logam, kertas tekstil, pecah belah, hasil laut dan obat-obatan. Kemajuan dibidang ekonomi tentunya berimbas pada kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Puncak kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun Ar-Rasyid (786-809M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833M). Kekayaan yang melimpah pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan diberbagai bidang seperti sosial, pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kesehatan, kesusastraan dan pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa inilah berbagai bidang tersebut mencapai puncak keemasannya.                                                                                                                                                                                                               
C. TRADISI EKONOMI PADA MASA BANI ABBASIYAH
Sektor pembangunan dibidang ekonomi merupakan masalah sentral dalam pembangunan suatu negara. Ekonomi dapat dikatakan sebagai tulang punggung dalam kehidupan suatu negara. Tanpa didukung oleh perekonomian yang kuat, mustahil suatu negara dapat melaksanakan pembangunan-pembangunan dibidang yang lain secara baik dan sempurna. Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah pertumbuhan ekonomi dikatakan cukup stabil. Devisa negara berlimpah, uang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Pada masa permulaan dinasti abbasiyah, semua khalifah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan negara. Sektor-sektor perekonomian yang dikembangkan meliputi pertanian, perindustrian, dan perdagangan. 

1. Pertanian
       Disektor pertanian pada masa dinasti abbasiyah mereka sangat menghormati dan membela kaum tani, bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka. Dan sector pertanian dikelola secara intensif. Perkembangan bidang Pertanian maju pesat karena pusat pemerintahannya berada di kawasan yang sangat subur , ditepian sungai yang dikenal dengan nama Sawad . Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli . Usaha-usaha yang dilakukan antara lain:
a.)       Memperlakukan ahl zimmah dan mawali dengan perlakuan yang baik dan adil, serta menjamin hak milik dan jiwa mereka, hingga kembalilah bertani diseluruh penjuru negeri.
b.)      Mengambil tindakan keras terhadap pemerintah yang berlaku kejam kepada para petani.
c.)       Memperluas daerah-daerah pertanian disetiap wilayah negara.
d.)      Membangun dan menyempurnakan perhubungan kedaerah-daerah pertanian, baik darat ataupun air.
e.)       Membangun bendungan-bendungan dan kanal-kanal, baik besar ataupun kecil sehingga tidak ada daerah pertanian yang tidak ada irigasi.
Dengan langkah seperti itu maka pertanian menjadi maju pesat, tidak hanya di Irak saja yang terkenal subur, tapi juga seantero negeri. Tiap-tiap wilayah mempunyai kekhususan dalam pertanian.
Seperti kurma yang banyak di hasilkan di Jerid, Teluk Persia, dan Tunis Selatan. Kacang-kacangan dihasilkan di daerah Tebessa, Jagung banyak dihasilkan di Mediterania, Gabah di Syiria, gula di Mesir, dan kunyit di Yaman.
Dalam batas tertentu, ilmu-ilmu pertanian diadopsi dari Yunani melalui penerjemahan buku-buku tertentu. Salah satu buku panduan pertanian yang paling dikenal adalah al-Filaha al-Rumiyah (Pertanian Romawi), yang merupakan buku panduan orang-orang Bizantiyum.
2. Perindustrian
Pada masa dinasti Abbasiyah dibangun tempat-tempat perindustrian hampir meliputi seluruh wilayah negeri. Perindustrian terbesar dari sektor pertambangan meliputi : tambang perak, tembaga, seng, dan besi yang dihasilkan dari Persia dan Khurasan. Di Beirut terdapat beberapa tambang besi, di Tibris terdapat marmer, mutiara di Bahrain, besi di Lebanon, pirus di Naysabur. Sedangkan dalam indusri batu-batuan, terdapat permata di Khurasan, batu kristal di Maghrib, kaca di Syiria, Mesir, dan Iran. Pada industri tekstil terdapat karpet yang berada di Iran dan Irak, wol di Armenia, kain brokat di Fars, dan sutra di Kaspia.
3. Perdagangan
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri aeperti kain linen di Mesir, sutra dari Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan kurma dari Iraq. Hasil hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah kekuasaan Abbasyah dan negara lain. Kota Baghdad merupakan kota perdagangan terbesar saat itu. Sedangkan Damaskus meerupakan kota dagang nomor dua , sebagaai transit bagi para khafilah dagang dari Asia kecil , dan daerah-daerah Furat yang menuju ke negeri Arab dan Mesir, atau sebaliknya.
Adapun segala usaha yang ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti :
a.    Membangun sumur dan tempat istirahat di jalan-jalan yang melewati khafilah dagang.
b.    Membangun armada-armada dagang.
c.    Membangun armada untuk melindungi partai-partai negara dari serangan bajak laut.
Sungai Tigris dan Furat merupakan sungai yang menjadi pelabuhan transmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangaan tingkat internasional ini semenjak khalifah Al-Mansur.[4]
Kemajuan ekonomi yang begitu pesat ini juga dilatarbelakangi oleh para Khalifah yang memiliki latar belakang saudagar Makkah. Seperti diketahui aktifitas ekonomi khususnya perdagangan sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari bangsa Arab, bahkan Nabi sendiri adalah saudagar, demikian juga para sahabatnya.[5] Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tidak dapat terbendung lagi . Selain itu perdagangan barang tambang juga semarak . Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah , Dinasti Tang di Cina juga mengalami puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia .

D.  KEBIJAKAN ADMININSTRASI KEUANGAN NEGARA ABBASIYAH
Dalam bidang administrasi negara, masa Dinasti Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan masa Dinasti Umayyah. Hanya saja pada masa ini telah mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan dan penyempurnaan. Secara umum kendali pemerintahan dipegang oleh khalifah sendiri, sementara dalam operasinya yang menyangkut urusan-urusan sipil dipegang oleh wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi’ (hakim) dan masalah militer dipegang oleh ‘amir (jenderal). Sistem pemerintahan Abbasiyah bersifat sentralisasi. Dalam keadaan darurat sering khalifah menyerahkan pemerintahan kepada panglima besar angkatan perang yang diberi gelar “Amiru Al-Umara”.

1. Sumber Pemasukan Negara
Pemungutan pajak merupakan sumber utama pemasukan atau pendapatan negara Abbasiyah , sedangkan sumber pendapatan lainnya dari zakat wajib atas setiap orang islam.  Zakat dibebankan atas tanah produktif, hewan ternak, emas dan perak, barang dagang dan harta milik lainnya . para pemunguk pajak resmi mengurus pajak tanah, hewan ternak, sedangkan pemungutan pajak atas barang milik sendiri diserahkan pada kesadaraan diri masing masing individu . semua hasil uang yang terkumpul disalurkan oleh kantor perbedaharaan negara untuk kepentingan orang islam sendiri , seperti orang miskin, anak yatim, musafir dan lain lain . semua pemasukan ini dimasa modern disebut fay ( lihat dan bandingkan Q.S 59:7)  dan disalurkan oleh khalifah untuk membayar tentara , memelihara masjid, jalan dan jembatan .
Adapun tentang pengeluaran, data yang kita miliki dari berbagai sumber tentunya . sekalipun demikian , diriwayatkan bahwa ketika Al- Mansyur meninggal kas negara berjumlah 600 juta dirham dan 14 juta dinar . ketika Ar- Rasyid meninggal, jumlahnya mencapai  lebih dari 900 juta dirham . Oleh karena itu , masa Abbasiyah merupakan masa keemasaan atau masa kejayaan umat islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban .

2. Anggaran Pengeluaran Negara
       Besar pendapatan negara seiring pula dengan pengeluaran negara yang mencakup berbagai divisi pemerintahan yang telah dibentuk pemerintahan Abbasiyah, yaitu sebagai berikut:
1.        Administrasi pemerintahan dengan biro bironya
2.        Sistem organisasi militer
3.        Administrasi wilayah pemerintahan
4.        Petanian, perdagangan , dan industri
5.        Islamisasi pemerintahan
6.        Kajian dalam bidang kedongteran, astronomi, matematika, geografi, hitoriorafi, filsafat islam dan lain lain .        
7.        Pendidikan, kesenian, arsitektur meliputi pendidikan dasar (khuttab), menengah, dan perguruan tinggi, erpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.                



[1] Sulesana Volume 8 Nomor 2 Tahun 2013
[2] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid3 (Pustaka Alhusna : Jakarta 1983), h. 2-3,
[3] Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam: Diarasah Islamiyah (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994), h.50.
[4] Philip K. Hitti, op.cit., hal. 343

[5] Aktifitas ekonomi bangsa Arab ini sampai diabadikan dalam AL-Quran yaitu dalam surat Al-Quraisy

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
            Dinasti abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat islam. Dinasti Abbasiyah merupakan pengganti dari kekuasaan Dinasti Umayyah yang terlebih dulu berkuasa. Pada awal kekhalifahan Bani Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu As-Saffah (750-754M) sebagai khalifah pertama yang kemudian digantikan oleh anaknya yaitu Abu Ja’far Al-Mansur (754-775M) yang  memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Sedangkan menurut asal-usul penguasa selama masa 508 tahun, Bani Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa, yakni Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk.
            Puncak kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun Ar-Rasyid (786-809M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833M). Kekayaan yang melimpah pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan diberbagai bidang seperti sosial, pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kesehatan, kesusastraan dan pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa inilah berbagai bidang tersebut mencapai puncak keemasannya.
            Sektor pembangunan dibidang ekonomi merupakan pada masa pemerintahan bani Abbasiyah dikatakan cukup stabil. Devisa negara berlimpah, uang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Pada masa permulaan dinasti abbasiyah, semua khalifah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan negara. Sektor-sektor perekonomian yang dikembangkan meliputi pertanian, perindustrian, dan perdagangan. 
Dalam bidang administrasi Negara masa Dinasti Abbasiyah telah mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan dan penyempurnaan. Secara umum kendali pemerintahan dipegang oleh khalifah sendiri, sementara dalam operasinya yang menyangkut urusan-urusan sipil dipegang oleh wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi’ (hakim) dan masalah militer dipegang oleh ‘amir (jenderal).
     
B.     SARAN
            Kami berharap setelah kita mempelajari pembahasan materi ini, kita dapat mengetahui mengenai khilafah kepemimpinan, perkembangan ekonomi, tradisi ekonomi dan kebijakan administrasi keuanagan pada masa Dinasti Abbasiyah. Dari penejelasan di atas kita sebagai umat islam dapat mengambil pelajaran. Suatu sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian Dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka. Selain itu, dari sejarah kekuasaan Dinasti Abbasiyah kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan saat ini yaitu ilmu pengetahuan.
            Sebaliknya, kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada pada dinasti besar ini agar tidak sampai terjadi pada diri kita dan anak cucu kita. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan, sehingga mereka tega membantai hampir seluruh keluarga Dinasti Umayyah yang notabenya adalah sesama umat Islam.
            Dan kami juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritikan dan masukan yang konstruktif dari berbagai pihak sangat kami harapkan agar dalam penyusunan makalah selanjutnya akan semakin mendekati kebenaran.
   
Daftar Pustaka
Abdullah, Boedi. 2010. Peradaban pemikiran ekonomi islam. Bandung: pustaka setia.
Naila Farah. 2017. Perkembangan Ekonomi dan Administrasi pada Masa Bani Umayyah dan Abassiyah. Jurnal sejarah. 6(2): 25-46.
Maslihtin. 2018. Sejarah Kota Baghdad Dalam Peradaban Islam Masa Abbasiyah Tahun 762-1258 M [skripsi]. Surabaya (ID): Universitas Islam Negeri Surabaya.
    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH EKONOMI MAKRO TENAGA KERJA