MAKALAH EKONOMI MAKRO
TENAGA KERJA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang....................................................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................................................................. 1
C. Tujuan....................................................................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................................................. 2
A. Konsep Ketenagakerjaan.................................................................................................................................... 2
B. Pengangguran......................................................................................................................................................... 3
C. Solusi Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan............................................................................................... 6
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................................................... 10
A. Kesimpulan........................................................................................................................................................... 10
B. Saran........................................................................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................................................... iv
iii
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Indonesia memiliki jumlah
penduduk sebesar 225 juta jiwa, menjadikan negara ini negara dengan penduduk
terpadat ke-4 di dunia. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah
mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah pengangguran
dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang
merata. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan
pemborosan-pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga
dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan
sosial dan kriminal dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas
maka rumusan masalahnya adalah:
a. Bagaimanakah
konsep Ketenagakerjaan itu?
b. Sebutkan
dan jelaskan apa yang dimaksud pengangguran.
c. Bagaimana
solusi untuk menangani masalah ketenagakerjaan?
C. Tujuan
a. Dapat
mengetahui dan memahami bagaimana konsep ketenagakerjaan.
b. Dapat
mengetahui dan memahami jenis-jenis pengangguran.
c. Dapat
mengetahui dan memahami cara untuk menangani masalah ketenagakerjaan.
1
PEMBAHASAN
A. Konsep
Ketenagakerjaan
a.
Pengertian
Menurut Imam Sopomo, perburuhan atau ketenagakerjaan adalah suatu
himpunan, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang
berkenaan dengan kejadian saat seseorang bekerja pada orang lain dengan
menerima upah.
Menurut Molenaar, perburuhan
atau ketenagakerjaan adalah bagian segala hal yang berlaku, yang pokoknya
mengatur hubungan antara tenaga kerja dan pengusaha, antara tenaga kerja dan
tenaga kerja.
Tenaga kerja juga dapat
diartikan, bahwa tenaga kerja adalah orang yang bersedia atau sanggup bekerja
untuk diri sendiri atau anggota keluarga yang tidak menerima upah serta mereka
yang bekerja untuk upah. Sedangkan menurut pendapat Simanjuntak, bahwa tenaga
kerja adalah kelompok penduduk dalam usia kerja, dimana ia mampu bekerja atau
melakukan kegiatan ekonomis dalam menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.1
b.
Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja menurut
Tambunan, adalah termasuk lapangan pekerjaan yang sudah diduduki (employment)
dan masih lowong. Dari lapangan pekerjaan yang masih lowong tersebut adanya
kebutuhan berarti adanya kesempatan kerja bagi orang yang menganggur. Besarnya
lapangan kerja yang masih lowong atau kebutuhan tenaga kerja yang secara riil
dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung pada banyak faktor, di antaranya
yang paling utama adalah prospek usaha atau pertumbuhan output dari perusahaan
tersebut, ongkos tenaga kerja atau gaji yang harus dibayar, dan harga
faktor-faktor produksi lainnya yang bisa menggantikan fungsi tenaga kerja,
misanya barang modal.
Penciptaan kesempatan kerja
adalah langkah yang tepat, mengingat penawaran tenaga kerja yang lebih tinggi
dari permintaannya. Kelebihan tenaga kerja yang lebih tinggi dari
permintaannya. Kelebihan tenaga kerja ini biasanya merupakan tenaga kerja tidak
ahli, sehingga perlu kiranya perluasan investasi pada proyek-proyek padat
karya, bukan pada perkembangan sektor kapitalis dengan ciri utama padat modal
sebagai hasil dari pilihan strategi pembangunan yang mendahulukan pertumbuhan
1 Tambunan.Tenaga Kerja. Yogyakarta: Bpfe 2002
Hlm. 78
2
ekonomi yang tinggi. Kesempatan kerja mengandung pengertian
bahwa besarnya kesediaan usaha produksi untuk mempekerjakan tenaga kerja yang
dibutuhkan dalam prosesproduksi, yang dapat berarti lapangan pekerjaan atau
kesempatan yang tersedia untuk bekerja yang ada dari suatu saat dari kegiatan
ekonomi.
Perluasan kesempatan kerja
produktif bukan berarti hanya menciptakan lapangan usaha baru. Melainkan pula
usaha peningkatan produktivitas kerja yang pada umumnya disertai dengan
pemberian upah yang sepadan dengan apa yang telah dikerjakan oleh setiap
pekerja.2 Pada dasarnya ada dua cara
yang dapat ditempuh untuk memperluas kesempatan kerjaPengembangan industri
terutama padat karya yang dapat menyerap relatif banyak tenaga kerja dalam
proses produksi; dan Melalui berbagai proyek pekerjaan umum seperti pembuatan
jalan, saluran air, bendungan jembatan dan sebagainya.
B. Pengangguran
Kemiskinan merupakan masalah
utama yang penanganannya terus diupayakan oleh pemerintah hingga kini.
Krusialnya penanganan kemiskinan menjadikan masalah ini masuk dalam misi
pembangunan nasional tahun 2015-2019 yaitu mewujudkan kualitas hidup manusia
Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera. Dalam nawacita atau sembilan agenda
prioritas pembangunan tahun 2015-2019 pun secara implisit tercantum yaitu
meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia. Kementerian
Sosial sebagaigai salah satu elemen pemerintah yang berperan dalam penanganan
kemiskinan juga menjadikan peningkatkan taraf kesejahteraan sosial penduduk
miskin dan rentan sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai. pengangguran masih
saja menjadi masalah sosial dan ekonomi di Indonesia. Di Indonesia sendiri
pengangguran merupakan salah satu masalah yang tidak kunjung selesai.3
Pengangguran adalah masalah
makro ekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan yang
paling berat. Kebanyakan orang kehilangan pekerjaan berarti mengalami penurunan
standar kehidupan dan tekanan psikologis. Jadi tidaklah mengejutkan jika
pengangguran menjadi topik yang sering dibicarakan dalam perdebatan politik dan
politisi sering mengklaim, bahwa kebijakan yang mereka tawarkan akan membantu
menciptakan lapangan kerja.4
2
Tambunan, Op.Cit. Hlm 80
3Ratih
Probosiwi. 2016. Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
(B2P3KS). Vol 15 No 2 Juni 2016.
4Mankiw,
G. 2006. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Salemba Empat.
3
Menurut sifatnya pengangguran
dibedakan menjadi pengangguran terbuka (open unemployment), setengah menganggur
(underunemployment), dan pengangguran tersembunyi (disguised unemployment).5
Berikut penjelasan masing-masing jenis pengangguran.
1. Pengangguran Terbuka (Open
Unemployment)
Pengangguran terbuka adalah
angkatan kerja yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, sedang mempersiapkan
suatu pekerjaan, tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin
mendapatkan pekerjaan, dan memiliki perkerjaan namun belum mulai bekerja.
Pengangguran terbuka disebabkan kesempatan kerja yang tersedia lebih rendah
daripada jumlah angkatan kerja.
2. Setengah Menganggur (Under
Unemployment)
Istilah setengah menganggur
menunjukkan pekerja yang jam kerjanya di bawah jam kerja normal dalam satu
minggu, jumlah jam kerjanya kurang dari 35. Setengah menganggur dibedakan
menjadi dua, yaitu setengah menganggur terpaksa dan setengah menganggur
sukarela. Setengah menganggur terpaksa adalah pekerja ini masih mencari
pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain. Setengah menganggur sukarela
adalah pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal, tetapi tidak mencari
pekerjaan atau bersedia 35 menerima pekerjaan lain.
3. Pengangguran Tersembunyi
(Disguised Unemployment)
Pengangguran tersembunyi adalah
pengangguran yang terjadi karena jumlah pekerja dalam satu kegiatan ekonomi
lebih besar daripada jumlah pekerja yang diperlukan. Adanya tambahan pekerja
menyebabkan kegiatan ekonomi berlangsung tidak efisien. Misalnya dalam proses
pembuatan kerajinan gerabah terdapat lima belas orang tenaga kerja. Padahal
untuk dapat memproduksi kerajinan gerabah secara optimal bisa dilakukan oleh
dua belas orang saja. Tiga tenaga kerja sehingga termasuk pengangguran
terselubung.
b. Pengangguran Berdasarkan Penyebab
Berdasarkan penyebabnya
pengangguran dibedakan menjadi pengangguran musiman (seasonal unemployment),
pengangguran konjungtur/siklikal (cyclical unemployment), pengangguran uktural
(structural unemployment), pengangguran
5Harnida Gigih dkk. 2015. Ketenagakerjaan. Klaten:
Cempaka Putih. Hlm 22.
4
teknologi
(technological unemployment) dan pengangguran friksional (frictional
unemployment).6
Penjelasannya sebagai berikut.
1. Pengangguran Musiman (Seasonal
Unemployment)
Pengangguran musiman biasanya
terjadi di sektor pertanian yang proses produksinya dipengaruhi siklus tanam.
Contohnya pada saat musim tanam dan musim panen, pekerjaan di sektor pertanian
sangat padat. Akan tetapi, pada selang waktu antara musim tanam dan musim
panen, para pekerja di sektor ini menganggur menunggu musim panen berikutnya.
2. Pengangguran Konjungtur/Siklikal
(Cyclical Unemployment)
Pengangguran konjungtur atau
siklikal disebabkan siklus ekonomi yang fluktuatif Pada saat kondisi ekonomi
lesu atau menurun, daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini menyebabkan proses
produksi menurun sehingga pemakaian tenaga kerja berkurang. Tenaga kerja yang
tidak terpakai inilah yang disebut pengangguran konjungtur/sinklikal.
3. Pengangguran Struktural
(Structural Unemployment)
Pengangguran struktural
disebabkan perubahan struktur dan kegiatan ekonomi sebagai akibat perkembangan
ekonomi. Kondisi perekonomian yang terus ber-kembang dalam jangka panjang akan
mendorong peningkatan peran sektor industri besar. Sektor usaha mikro kecil dan
menengah (UMKM) semakin tergusur perannya sehingga tenaga kerja di sektor ini
tidak terpakai dan menganggur.
4. Pengangguran Teknologi
(Technological Unemployment)
Pengangguran teknologi terjadi
karena adanya mekanisasi atau penggantian tenaga kerja dengan mesin modern yang
lebih praktis dan produktif. Untuk mengoperasikan mesin modern dibutuhkan
tenaga kerja ahli. Akibatnya, tenaga kerja yang tidak memenuhi kualifikasi akan
diberhentikan dan menganggur. Pengangguran ini juga disebabkan penerapan sistem
padat modal dan lapangan kerja yang kurang memadai.
5. Pengangguran Friksional
(Frictional Unemployment)
Pengangguran friksional
disebabkan adanya perpindahan atau peralihan dari satu sektor ke sektor lain
atau dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Pengangguran ini diakibatkan
pergeseran secara tiba-tiba pada permintaan dan penawaran tenaga kerja sehingga
sulit mempertemukan para pekerja dan kesempatan kerja.
6Sadono Sukirno. 2011. Mikro Ekonomi: Teori Pengantar Edisi
Ketiga. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
5
Pengangguran ini biasanya bersifat sementara yang disebabkan
kesenjangan waktu, letak geografis, dan informasi lowongan kerja. Pengangguran
ini juga disebabkan keinginan pencari kerja untuk memperoleh suatu pekerjaan
yang lebih baik.
C. Solusi
Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan
Masalah ketenagakerjaan sampai
saat ini semakin meluas dan tidak terkendali hingga mencapai kondisi yang cukup
memprihatinkan. Kondisi tersebut ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah
pengangguran maupun setengah penganggur dengan pendapatan yang relatif rendah
dan kurang bahkan tidak merata. Dengan kondisi yang cukup memprihatinkan
tersebut, berdampak pada pemborosan sumber daya serta potensi yang ada, menjadi
beban keluarga maupun masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong
timbulnya aksi kriminal dan kweresahan sosial, serta dapat menghambat
kelangsungan pembangunan dalam jangka panjang.
Pembangunan Indonesia sangat
bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang ada. Kesehatan baik mental
maupun fisik serta mempunyai keahlian dan keterampilan tenaga kerja sangat
berpengaruh dalam kualifikasi untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yaang
layak, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, masalah
ketenagakerjaan harus diminimalisasi agar tidak berdampaka pada kemisikinan.
Dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan dan pengangguran, dibutuhkan
kebijakan-kebijakan yang dapat menurunkan angka pengangguran dan mengatasi
masalah ketenagakerjaan, diantaranya :
a. Peta Perencanaan dan Pengelolaan
Ketenagakerjaan
Untuk dapat mengatasi berbagai
macam masalah ketenagakerjaan seperti pengangguran, pemerintah diharapkan dapat
menyusun peta perencanaan dan pengelolaan ketenagakerjaan di Tanah Air sebagai
upaya mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.
Dalam pembagunan nasional,
kebijakan ekonomi makro yang bertumpu pada sinkronisasi kebijakan fiskal dan
moneter diarahkan pada penciptaan dan perluasan kesempatan kerja. Guna menumbuh
kembangkan usaha mikro dan usaha kecil yang mandiri perlu keberpihakan
kebijakan termasuk akses, pendamping, pendanaan usaha kecil dan tingkat suku
bunga kecil yang mendukung.7
7
Mohdar HM, “Potret
Ketenagakerjaan, Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia : Masalah Sosial”,
Jurnal
Al-Buhuts Vol.11 No.
1, 2015, hlm. 61.
6
Kebijakan ketenagakerjaan
khususnya dalam penciptaan dan perluasan lapangan kerja hendaknya dilakukan
melalui program-program khusus untuk kelompok angkatan kerja tertentu, seperti
program mengatasi pengangguran di pedesaan, program pembinaan terhadap
pengusaha dan pedagang ekonomi, program penggantian tenaga kerja asing dengan
tenaga kerja indonesia, dan sebagainya.8
Selain itu, pengembangan program UKM sangat diperlukan guna memperluan lapangan
kerja. Program - program yang terkait dengan pemberdayaan UKM meliputi :
1) Proyek
Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K)
2) Kelompok
Usaha Bersama (KUBE)
3) Pembangunan
Prasarana Pendukung Desa Tertinggal (P3DT)
4)
Program
Pengembangan Kecamatan (PPK). b. Fleksibilitas Tenaga Kerja
Pemerintah melihat penyandang
masalah sosial seperti pengangguran dan kemiskinan sebagai orang yang mengalami
disfungsi sosial (sosial disfunctions). Artinya pemerintah harus dapat menjadi
fasilitator dalam mengubah kondisi
masyarakat tersebut menjadi berfungsi sosial yakni
masyarakat mampu menampilkan peran dan fungsi sosialnya dalam masyarakat. Si
miskin tidak semata-mata ditingkatkan ekonominya tetapi yang lebih penting
dilatih diberdayakan dalam wadah kelompok untuk mampu berperan dalam lingkungan
sosialnya.9
Langkah-langkah praktis yang
dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan fleksibilitas tenaga kerja antara
lain:
1)
Menyelesaikan
pelaksanaan perundang-undangan tenaga kerja untuk memenuhi hak - hak pekerja
mereka.
2)
Menciptakan
peradilan tenaga kerja, sebagaimana yang diatur dalam undang-undang
perselisihan hubungan industrial.
3) Membentuk
tim ahli dalam menentukan tingkat upah minimum.
4)
Merevisi
Undang-undang mengenai Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional yang baru disahkan
dan membentuk komisi tingkat tinggi yang bertugas mendesain sistem
kesejahteraan nasional.
8Sunarso
dan Puji Lestari, “Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan dalam PJPT II Sebagai
Strategi untuk Memperkokoh Ketahanan Nasional ”, Jurnal Cakrawala Pendidikan
Vol.14 No. 1, 1995, hlm. 157.
9
Mohammad Mulyadi, “Peran Pemerintah dalam Mengatasi
Pengangguran dan Kemiskinan dalam Masyarakat”,
Jurnal Kajian Vol.21 No. 3, 2016, hlm. 234.
7
Lemahnya kemampuan pekerja
Indonesia dirasakan sebagai kendala utama bagi investor. Rendahnya mutu tenaga
kerja tidak hanya mengakibatkan rendahnya produktivitas kerja dan penghasilan,
tetapi juga menyulitkan pengolahan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia
sebenarnya memiliki keunggulan komparatif di bidang sumber daya alam dan jumlah
tenaga kerja. Oleh karena itu, keahlian dan keterampilan tenaga kerja tersebut
perlu ditingkatkan, supaya tenaga kerja yang besar tersebut benar-benar dapat
menjadi kekuatan efektif dalam pembangunan.
Peningkatan mutu tenaga kerja
dapat dilakukan melalui tiga jalur utama, yaitu jalur pendidikan formal, jalur
latihan kerja, dan jalur pengembangan di tempat kerja.10
Dengan adanya pendidikan formal akan sangat efektif dalam rangka pembentukan
dan dan pengembangan kepribadian, bakat, sikap mental, pengetahuan dan
kecerdasan. Sedangkan latihan kerja lebih menekankan pada dunia kerja itu
sendiri.
d. Peningkatan Kualitas Pelayanan
Penempatan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja
Dalam meningkatkan kualitas
pelayanan penempatan dan pemberdayaan tenaga
kerja dapat diterapkan melalui kebijakan
- kebijakan berikut :11
1) Penataan
lembaga berbasis kompetensi.
2)
Peningkatan
kualitas sistem tata kelola program pelatihan untuk mempercepat sertifikasi
pekerja.
3)
Identifikasi
dan memilih sektor yang mempunyai nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang
tinggi.
e. Memperbaiki
Daya Saing
Daya saing ekspor Indonesia
bergantung pada kebijakan perdagangan yang terus menjaga keterbukaan, disamping
menciptakan fasilitasi bagi pembentukan struktur ekspor yang sesuai dengan
ketatnya kompetisi dunia. Dalam jangka pendek, Indonesia dapat mendorong ekspor
dengan mengurangi berbagai biaya yang terkait dengan ekspor itu sendiri serta
meningkatkan akses kepada pasar internasional. Kebijakan yang dapat dipakai
untuk mengontrol biaya-biaya tersebut diantaranya :
1) Menjaga
kestabilan dan daya saing nilai tukar.
2)
Memastikan
peningkatan tingkat upah yang moderat sejalan dengan peningkatan produktifitas.
10
Sunarso dan Puji Lestari, “Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan
dalam PJPT II Sebagai Strategi untuk Memperkokoh
Ketahanan Nasional ”, Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol.14 No. 1, 1995, hlm. 158.
11
Ahmad Soleh, “Masalah
Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia”, Jurnal Ilmiah Cano Ekonomos
Vol.6 No. 2, 2017,
hlm. 90.
8
3)
Akselerasi
proses restitusi PPn dan restitusi bea masuk impor bagi para eksportir, dan
4)
Meningkatkan
kemampuan fasilitas pelabuhan dan bandara dan infrastruktur jalan untuk
mengurangi biaya transportasi.
f. Mendorong
Investasi
Investasi dari luar negeri pada
kenyataannya belum menunjukkan hasil yang berarti selama tahun 2006 lalu. Para
investor asing masih menunggu adanya perbaikan iklim investasi dan beberapa
peraturan yang menyangkut aspek perburuhan. Jika upaya terobosan lain tidak
dilakukan, masalah pengangguran dikhawatirkan akan bertambah terus pada tahun
yang akan datang.
Beberapa produk perikanan dan
kelautan juga sangat potensial untuk dikembangkan dalam pegembangan investasi
seperti udang, ikan kerapu dan rumput laut dan beberapa jenis budidaya
perikanan dan kelautan lainnya. Sektor industri manufaktur dan kerajinan,
khususnya untuk industri penunjang - supporting industries seperti komponen
otomotif, elektronika, furnitur, garmen dan produk alas kaki juga memberikan kontribusi
besar dalam pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, banyak produk
IT dan industri manufaktur yang sangat dibutuhkan, baik untuk pasar domestik,
maupun untuk pasar ekspor. Di samping kedua sektor tersebut, sektor jasa
keuangan, persewaan, jasa konsultasi bisnis dan jasa lainnya juga memiliki
prospek baik untuk dikembangkan.
9
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kondisi ketenagakerjaan di
indonesia masing sangat kurang dari harapan. Angka tingkat pengangguran masih
sangat tinggi, kualitas pekerja yang kurang memadai serta berbagai faktor lain
yang turut memperburuk kondisi tenaga kerja di Indonesia. Kebijakan pemerintah
yang mengatasi ketenagakerjaan di Indonesia belumlah cukup untuk mengentaskan
para pekerja dari kemiskinan.
B. Saran
Dengan disusunnya makalah
tentang tenaga kerja, penulis mengharapkan pembaca mampu memahami definisi
ketenagakerjaan serta permasalahan ketenagakerjaan yang umum terjadi di
Indonesia dan cara mengatasinya, sehingga mampu menerapkan dalam kehidupan guna
membangun tatanan Indonesia yang lebih baik. Di sini penulis menyadari bahwa
dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan
saran yang membangun utuk penulisan makalah selanjutnya sangat penulis
harapkan.
10
Harnida
Gigih dkk. 2015. Ketenagakerjaan. Klaten: Cempaka Putih.
HM,
Mohdar. 2015. Potret Ketenagakerjaan, Pengangguran dan Kemiskinan di Indonesia :
Masalah Sosial. Jurnal Al-Buhuts.
Mankiw,
G. 2006. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Salemba Empat.
Mulyadi, Mohammad. 2016. Peran
Pemerintah dalam Mengatasi Pengangguran dan Kemiskinan dalam Masyarakat.
Jurnal Kajian.
Ratih
Probosiwi. 2016. Pengangguran dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kemiskinan.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
(B2P3KS). Vol 15 No 2 Juni 2016.
Sadono
Sukirno. 2011. Mikro Ekonomi: Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Soleh,
Ahmad. 2017. Masalah Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia. Jurnal
Ilmiah Cano Ekonomos.
Sunarso
dan Puji Lestari. 1995. Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan dalam PJPT II Sebagai
Strategi untuk Memperkokoh Ketahanan Nasional . Jurnal Cakrawala
Pendidikan.
Tambunan
2002.Tenaga Kerja. Yogyakarta: Bpfe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar